Kasedata.id – Penanganan kebakaran di TPA Takome, Kota Ternate, menunjukkan perkembangan positif. Sejak kebakaran terjadi pada Sabtu (3/10), sampai saat ini sekitar 70 persen api di permukaan lahan berhasil dipadamkan. Namun, tim gabungan masih menghadapi tantangan serius berupa api yang merambat dibawah tumpukan sampah pada kedalaman 5 hingga 10 meter.
Rambatan api yang sebelumnya mengancam kawasan perkebunan dan permukiman warga kini telah berhasil dilokalisasi. Meski demikian, proses pemadaman belum tuntas karena bara api masih bertahan di lapisan bawah tumpukan sampah.
Perkembangan itu dibahas dalam Rapat Evaluasi Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Takome-Sulamadaha yang dipimpin Ketua Tim Posko Tanggap Darurat, yang juga Sekretaris Daerah Kota Ternate, Rizal Marsaoly, Senin (12/10/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Rapat itu dihadiri sejumlah pimpinan OPD terkait diantaranya BPBD, Dinas Kesehatan, Dinas Pemadam Kebakaran, dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Ternate.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Ternate, Tonny S. Pontoh, menjelaskan penanganan kebakaran di TPA Takome memiliki tantangan berbeda dibandingkan kebakaran lahan pada umumnya. Tumpukan sampah yang tebal dapat menyimpan panas dan bara api di lapisan bawah hingga api berpotensi kembali muncul meski permukaan terlihat padam.
Menurut Tonny, penyiraman dari permukaan saja tidak cukup untuk memadamkan api yang berada di dalam tumpukan sampah. Karena itu, tim gabungan menerapkan strategi terpadu melalui pembongkaran mekanis, penyiraman intensif, dan penimbunan tanah.
“Menyemprot TPA hanya dari luar tanpa membongkar lapisan sampah adalah pemborosan air. Api TPA adalah operasi pembongkaran, bukan sekadar penyiraman. Karena itu, kami menerapkan strategi yang memadukan pembongkaran mekanis, penyiraman intensif, dan penimbunan tanah,” ungkap Tonny.
Untuk menangani sisa titik api, DLH mengerahkan dua unit ekskavator guna membongkar lapisan sampah yang padat sekaligus membuka bagian yang masih menyimpan panas.
Setelah pembongkaran, petugas melakukan penyiraman intensif menggunakan armada pemadam kebakaran, water cannon Polres Ternate, mobil tangki dari pihak Balai, serta mobil tangki PDAM Ternate. Volume air digunakan mencapai ratusan ribu liter per hari.
Tahap berikutnya adalah menimbun area yang telah didinginkan dengan tanah untuk mengurangi pasokan oksigen dan mencegah api kembali menyala. Kebutuhan tanah untuk penimbunan mencapai rata-rata 20 hingga 39 rit per hari.
“ Penanganan ini melibatkan BPBD, TNI-Polri, Basarnas, Damkar, Dinas PU, DLH, Dinas Kesehatan, serta dukungan pihak swasta dan masyarakat setempat” kata Tonny.
Kualitas udara jadi perhatian
Kebakaran melanda area TPA seluas sekitar 11 hektare itu juga berdampak terhadap kualitas udara di kawasan sekitar terutama Kelurahan Takome dan Sulamadaha.
Data pengukuran partikulat yang dicantumkan dalam laporan penanganan menunjukkan konsentrasi PM2.5 mencapai 278 dan PM10 sebesar 1.447. Angka itu dibaca berdasarkan satuan pengukuran dan periode pemantauan untuk memastikan tingkat paparan serta risiko kesehatan masyarakat.
Untuk mengantisipasi dampak kesehatan, Dinas Kesehatan Kota Ternate bersama BPBD telah mendirikan dua pos kesehatan kelurahan (poskeskel) darurat dengan dukungan 14 tenaga medis. Pelayanan difokuskan pada pemantauan dan penanganan gangguan pernapasan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, dan lanjut usia menjadi prioritas perlindungan selama proses penanganan kebakaran berlangsung.
Di tengah upaya pemadaman, BPBD Kota Ternate membutuhkan dukungan logistik untuk memastikan operasi berjalan berkelanjutan. Dua kebutuhan mendesak, kata Tonny, adalah pasokan bahan bakar minyak (BBM) dan alat pelindung diri (APD) khusus bagi petugas.
Menurutnya, pasokan BBM seperti solar atau Dexlite dari Pertamina dibutuhkan untuk mendukung operasional alat berat dan mobil tangki air. Begitu juga dengan petugas di area berisiko yang memerlukan sarung tangan tahan panas serta respirator yang sesuai dengan bahaya paparan asap dan gas di lokasi kebakaran.
Berdasarkan Keputusan Wali Kota Ternate Nomor 149 dan 151 Tahun 2026, status tanggap darurat penanganan Karhutla Takome-Sulamadaha ditetapkan selama 14 hari, terhitung 3 hingga 16 Oktober 2026.
Tonny optimis penanganan kebakaran dapat diselesaikan melalui dukungan logistik yang memadai dan kerja sama seluruh unsur yang terlibat.
“Dengan dukungan BBM yang lancar, ketersediaan APD yang memadai, serta sinergi lintas instansi yang solid, kami yakin kondisi TPA Takome akan segera pulih,” tutupnya. (*)



![Upaya tim gabungan memadamkan sisa api bawah tanah TPA Takome Kota Ternate [dok : istimewa]](https://kasedata.id/wp-content/uploads/2026/10/IMG_20261012_234544-225x129.jpg)

![Kondisi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda wilayah Kecamatan Taliabu Barat Laut, Lede, dan Taliabu Utara/Bupati Pulau Taliabu [dok : istimewa]](https://kasedata.id/wp-content/uploads/2026/10/IMG_20261012_181643-225x129.jpg)


