Kasedata.id – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi Maluku Utara menjadikan peringatan HUT ke-27 Pemprov Malut sebagai momentum memperkuat karakter generasi muda sekaligus menghidupkan warisan budaya Kie Raha. Dari perkemahan pengurus OSIS hingga Kirab Pesona Kie Raha Nusantara, Sofifi disulap menjadi ruang pembelajaran dan panggung keberagaman budaya, Jumat (9/10/2026).
Mengusung tema besar, “Tumbuhnya Harus Terasa”, Dikbud Malut tidak hanya menghadirkan kemeriahan perayaan, tetapi juga mendorong keterlibatan pelajar dan masyarakat dalam menjaga identitas daerah serta menumbuhkan kebanggaan terhadap kebudayaan Maluku Utara.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Malut, Abubakar Abdullah, menempatkan momentum hari jadi ini sebagai ruang memperkuat sinergi pendidikan dan kebudayaan dalam membentuk generasi muda yang berkarakter serta mencintai warisan leluhur.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu agenda utama ialah Perkemahan Akbar yang melibatkan pengurus OSIS tingkat SMA, SMK dan SLB dari seluruh kabupaten/kota di Maluku Utara. Kegiatan ini dirancang untuk membangun kepemimpinan, integritas, toleransi, dan kebersamaan antarpelajar. Untuk menunjang kebutuhan peserta, kantor Dikbud Malut turut dimanfaatkan sebagai fasilitas pendukung logistik dan sanitasi.
Di sektor kebudayaan, Dikbud Malut menggerakkan Kirab Pesona Kie Raha Nusantara yang melibatkan perwakilan empat kesultanan, organisasi perangkat daerah (OPD), komunitas seni, satuan pendidikan, paguyuban, serta pelajar se-Oba Utara.
Ratusan peserta mengenakan beragam pakaian adat dan menampilkan kekayaan seni Nusantara dalam iring-iringan yang dimulai dari Rumah Dinas Wakil Gubernur, menyusuri Jalan 40 dan kawasan perkantoran, hingga berakhir di Lapangan Tavamu. Warga memadati sepanjang rute untuk menyaksikan parade budaya yang menghadirkan tradisi lokal di tengah kehidupan masyarakat modern.
Wakil Gubernur Maluku Utara, H. Sarbin Sehe, turut berjalan bersama peserta dengan mengenakan pakaian adat, didampingi pimpinan OPD dan perwakilan empat kesultanan. Ia menegaskan bahwa kekayaan Maluku Utara tidak hanya terletak pada alam, tetapi juga pada budaya dan potensi seni masyarakatnya.
“Maluku Utara bukan hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena masyarakatnya yang terus menjaga warisan budaya leluhur. Kegiatan ini membuktikan bahwa setiap sudut Maluku Utara menyimpan bakat dan potensi luar biasa,” kata Sarbin.
Keberagaman terlihat dari penampilan peserta yang mengenakan pakaian adat berbagai daerah. Egi tampil dengan pakaian adat Tobelo, sementara Arie Tarigan mengenakan pakaian adat Batak. Bagi Egi, kirab budaya diharapkan tidak sekadar menjadi agenda tahunan, tetapi juga sarana mengenalkan sejarah dan menanamkan kecintaan terhadap warisan budaya kepada generasi muda.
Kemeriahan berlanjut di kawasan Bundaran Tavamu dengan penampilan Tari Cakalele, Soya-Soya, dan Cokaiba. Selain kirab, Dikbud Malut juga membuka Panggung Budaya di kawasan Alun-Alun Sofifi sebagai ruang ekspresi bagi sanggar sekolah dan kelompok seni untuk menampilkan tari tradisional, musik daerah, serta sastra lisan.
Upaya membangun karakter generasi muda turut diwujudkan melalui kerja bakti massal atau korve yang melibatkan pelajar untuk menjaga kebersihan fasilitas publik. Sementara itu, ASN di lingkungan Dikbud Malut berpartisipasi dalam Lomba Cerdas Cermat antar-OPD yang diselenggarakan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Malut.
Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan dan kebudayaan memiliki peran yang saling menguatkan. Di satu sisi, pelajar dibekali nilai kepemimpinan dan toleransi, di sisi lain, warisan adat, seni, dan sejarah daerah diperkenalkan melalui keterlibatan langsung masyarakat.
Dalam peringatan HUT ke-27 Pemprov Malut, Dikbud Malut mendorong agar kebudayaan tidak berhenti sebagai tontonan seremonial. Melalui pembinaan pelajar, kirab lintas budaya, dan panggung seni, warisan Kie Raha diharapkan tetap hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi mendatang. (*)
Penulis : Ilham
Editor : Redaksi






