Kasedata.id – Di pusara Sultan Ternate ke-48, mendiang H. Mudaffar Sjah, doa-doa dipanjatkan. Para pengurus dan kader Pimpinan Wilayah (PW) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Maluku Utara datang bukan sekadar untuk berziarah, melainkan juga menelusuri kembali nilai perjuangan yang diwariskan para pendahulu.
Ziarah ke makam Sultan Mudaffar Sjah menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2026. Dalam suasana khidmat di kompleks pemakaman keluarga Kesultanan Ternate, para kader melantunkan doa sebagai bentuk penghormatan kepada sosok yang dikenal memiliki peran dalam kehidupan adat, keagamaan, dan kebangsaan di Maluku Utara.
Bagi Fatayat NU Malut, peringatan Hari Santri tidak cukup berhenti pada seremoni dan kemeriahan kegiatan. Ada nilai yang hendak dijaga, bagaimana generasi muda tetap terhubung dengan sejarah, menghormati perjuangan para tokoh, dan meneruskan semangat pengabdian di tengah perubahan zaman.
Ketua PW Fatayat NU Maluku Utara Mardiah Z. Hanafi, Kamis (22/10/2026), mengatakan ziarah tersebut menjadi ikhtiar untuk meneladani perjuangan para ulama dan tokoh bangsa dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sekaligus merawat tradisi Islam yang ramah dan menjunjung tinggi persatuan.
“Hari Santri bukan hanya momen seremonial, tetapi menjadi pengingat bagi kita para kader muda NU untuk senantiasa menyambung sanad perjuangan para kiai dan pahlawan. Sultan Mudaffar Sjah adalah salah satu figur perekat bangsa dan pelindung umat di Maluku Utara yang patut kita teladani,” ujarnya.
Pesan itu menempatkan ziarah sebagai ruang refleksi. Para pendahulu tidak hanya dikenang melalui nama dan sejarah, tetapi juga melalui nilai yang dapat diteruskan dalam kehidupan bermasyarakat. Semangat menjaga persatuan, menghormati tradisi, dan mengayomi umat menjadi bagian dari warisan yang perlu dirawat bersama.
Selepas ziarah, rangkaian kegiatan berlanjut dengan pembacaan Surat Yasin dan doa bersama yang dilaksanakan secara mandiri di rumah masing-masing pengurus. Doa tersebut ditujukan kepada para pendiri Nahdlatul Ulama atau muassis, para kiai, ulama lokal Maluku Utara, serta para santri yang telah wafat.
Rangkaian doa ini sekaligus menjadi bentuk penghormatan kepada mereka yang telah meletakkan dasar perjuangan NU. Bagi kader Fatayat, mengenang para pendahulu juga berarti menjaga agar nilai keagamaan, persaudaraan, dan pengabdian tidak terputus oleh pergantian generasi.
Di Bumi Moloku Kie Raha, perempuan muda NU memiliki ruang pengabdian yang luas, mulai dari pembinaan masyarakat hingga penguatan kehidupan sosial yang harmonis. Karena itu, semangat Hari Santri diharapkan tidak hanya hadir dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga tercermin melalui kontribusi nyata para kader di tengah masyarakat.
Melalui ziarah dan doa, PW Fatayat NU Maluku Utara berupaya meneguhkan komitmen terhadap ajaran Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah, mempererat silaturahmi antarkader, dan meneruskan nilai perjuangan para pendahulu.
Sebab, sejarah tidak cukup hanya dikenang. Ia perlu dirawat melalui tindakan, agar semangat para ulama, santri, dan tokoh bangsa tetap hidup dalam pengabdian generasi hari ini. (*)
Penulis : Ilham
Editor : Redaksi







