Kasedata.id – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan kehadiran negara dalam pemulihan layanan pendidikan pascabencana di Provinsi Aceh. Pemerintah memastikan pemulihan tidak dilakukan secara setengah-setengah, melainkan melalui pembangunan kembali sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan berat.
Penegasan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti saat melakukan kunjungan kerja ke sejumlah wilayah terdampak banjir dan longsor, meliputi Aceh Utara, Aceh Tengah, Bener Meriah, hingga Aceh Tamiang, Jumat (30/1/2026).
Mu’ti menyampaikan bahwa langkah pemulihan ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, yang menekankan pentingnya penyediaan fasilitas pendidikan yang layak dan aman bagi seluruh peserta didik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sesuai arahan Bapak Presiden, tidak boleh lagi ada sekolah dengan bangunan rusak, atap bocor, atau sanitasi yang tidak layak. Rehabilitasi kita pastikan berjalan tuntas secara bertahap hingga 2026,” tegas Abdul Mu’ti.
Upaya tersebut dilakukan untuk menjamin proses belajar mengajar kembali berjalan normal dan aman. Selama masa transisi pembangunan, Kemendikdasmen tetap memfasilitasi kelas darurat, lengkap dengan dukungan mebeler dan sarana pendukung lainnya agar hak belajar siswa tetap terpenuhi.
Secara nasional, pemerintah telah menyiapkan anggaran sebesar Rp2,4 triliun khusus untuk pemulihan satuan pendidikan terdampak bencana di wilayah Sumatra.
Khusus di Provinsi Aceh, hingga 15 Januari 2026, tercatat 171 satuan pendidikan telah menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) revitalisasi tahap pertama. Rinciannya terdiri atas 93 SMK, 20 SLB, serta 58 SKB/PKBM.
“Total nilai PKS revitalisasi pendidikan di Aceh saat ini mencapai Rp274,18 miliar. Ini menunjukkan komitmen dan gerak cepat pemerintah yang bersinergi dengan Dinas Pendidikan Aceh,” jelas Mu’ti.
Sebagai penanda dimulainya proses pemulihan, Mendikdasmen meresmikan revitalisasi 53 sekolah di kawasan dataran tinggi Gayo, yang dipusatkan di SD Negeri 12 Bintang, Aceh Tengah, serta peresmian revitalisasi sekolah di SMA Negeri 1 Baktiya, Aceh Utara.
Tak hanya fokus pada infrastruktur fisik, Abdul Mu’ti juga menaruh perhatian pada pemulihan psikososial siswa dan guru. Di SMAN 1 Baktiya dan SMPN 22 Takengon, Mendikdasmen bahkan masuk ke ruang kelas dan mengajar langsung para siswa.
Langkah tersebut dilakukan untuk membangkitkan kembali semangat belajar dan optimisme para siswa serta tenaga pendidik yang sempat terdampak secara mental akibat bencana.
“Pendidikan bukan hanya soal gedung dan fasilitas, tetapi juga tentang mental, semangat, dan harapan masa depan,” ujarnya.
Dampak revitalisasi ini dirasakan langsung oleh pihak sekolah. Kepala SMA Negeri 1 Timang Gajah, Marhamah, menyampaikan apresiasinya atas perhatian pemerintah.
“Sebelumnya keterbatasan sarana sangat menghambat proses pembelajaran. Kini, berkat perhatian Bapak Presiden dan Pak Menteri, kami memiliki ruang belajar dan laboratorium yang aman dan layak. Ini menjadi penyemangat baru bagi kami,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Kepala SLB Negeri Selinara Angkut, Yusbida, yang berharap program revitalisasi pendidikan dapat terus berlanjut demi pemerataan fasilitas pendidikan, khususnya bagi peserta didik berkebutuhan khusus di daerah. (*)
Penulis : Sukarsi Muhdar
Editor : Redaksi




![Salah satu tambang beroperasi di Kabupaten Halmahera Timur yang merupakan anak perusahaan Harum Energy [dok : kasedata]](https://kasedata.id/wp-content/uploads/2026/02/IMG_20260210_161233-225x129.jpg)


![Rapat pengurus PWI Kota Ternate untuk menggelar sejumlah kegiatan [ dok : kasedata]](https://kasedata.id/wp-content/uploads/2026/02/Picsart_26-02-09_20-35-25-519-225x129.jpg)
