Kasedata.id — Warga Desa Kawasi, Pulau Obi turut terlibat langsung dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di dekat Sungai Akelamo. Pemerintah Desa Kawasi bersama masyarakat melakukan penanganan di lapangan dengan dukungan operasional dari berbagai pihak.
Sekretaris Desa Kawasi, Frans Datang, mengatakan penanganan kebakaran membutuhkan keterlibatan bersama antara pemerintah desa, masyarakat, dan pihak yang memberikan dukungan di lapangan.
“Penanganan kebakaran ini membutuhkan kerja sama semua pihak. Pemerintah desa, masyarakat, dan perusahaan bersama-sama turun ke lapangan untuk menangani kondisi ini. Kami saling mendukung sesuai peran masing-masing agar kebakaran dapat segera dikendalikan dan tidak meluas,” ujar Frans.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejak 1 Oktober 2026 sore, Crisis Management Team (CMT) Harita Nickel mengaktifkan respons lapangan setelah menerima informasi mengenai kebakaran di kawasan Akelamo. Dukungan operasional kemudian dilakukan untuk merespons kebutuhan penanganan bersama Pemerintah Desa Kawasi dan masyarakat. Pada 2 Oktober, respons diperkuat melalui aktivasi CMT Level 3, dengan koordinasi personel, peralatan, logistik, dan dukungan lintas unit secara berkelanjutan dalam dua shift, pagi dan malam.
Dukungan di lapangan mencakup pengerahan kendaraan dan peralatan untuk menangani sejumlah titik api, termasuk melalui pendinginan area yang berpotensi kembali terbakar serta pembangunan firebreak untuk membantu mengisolasi titik-titik kebakaran. Hingga 6 Oktober 2026, penanganan melibatkan sekitar 100 personel dengan dukungan satu fire truck dan delapan water truck.
Kepala Seksi Kesejahteraan Pemerintah Desa Kawasi, Bambang Bakir, mengatakan penanganan di lapangan terus disesuaikan dengan perkembangan kondisi. “Penanganan kami lakukan dengan melihat perkembangan kondisi dari hari ke hari. Warga ikut membantu di lapangan, sementara dukungan personel dan peralatan juga terus disesuaikan dengan kebutuhan di setiap titik api,” kata Bambang.
Keterlibatan warga tersebut didukung oleh Tim Siaga Bencana Desa (TSBD), yang menjadi wadah kesiapsiagaan pemerintah desa dan masyarakat dalam menghadapi kondisi darurat. Bambang mengatakan kesiapsiagaan TSBD telah dibangun sejak 2025 melalui pelatihan dan simulasi kebencanaan yang melibatkan BPBD Halmahera Selatan, Stasiun Meteorologi Oesman Sadik, Kantor SAR Ternate, serta sejumlah unsur lintas sektor lainnya.
“TSBD menjadi wadah bagi pemerintah desa dan masyarakat untuk bersama-sama menghadapi kondisi darurat. Dalam penanganan kebakaran ini, kami bersinergi dengan tim Harita Nickel melalui CMT sehingga seluruh pihak dapat bergerak bersama sesuai perannya masing-masing,” ujar Bambang.
Di tengah kemarau yang cukup panjang, Frans juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran. “Kemarau yang cukup panjang menjadi perhatian kita bersama. Perubahan iklim juga membuat kondisi cuaca semakin sulit diprediksi, sehingga kewaspadaan terhadap potensi kebakaran perlu terus ditingkatkan. Kami mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan mencegah hal-hal yang dapat memicu kebakaran,” tambah Bambang.
Ia juga mengimbau masyarakat mengelola sampah dengan baik dan berhati-hati apabila melakukan pembakaran sampah, dengan memastikan dilakukan di tempat yang aman dan jauh dari area yang mudah terbakar.
“Ini menjadi momen bagi kita semua untuk menjaga lingkungan bersama-sama. Pencegahan bukan hanya tugas pemerintah atau perusahaan, tetapi membutuhkan kepedulian seluruh masyarakat,” tutup Bambang. (tim/red)




![Sekda Kota Ternate Rizal Marsaoly, saat memimpin rapat tim penanganan Karhutla TPA Takome dan Sulamadaha [dok : kasedata]](https://kasedata.id/wp-content/uploads/2026/10/IMG_20261007_020851-225x129.jpg)

