Kasedata.id – Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Maluku Utara, Abubakar Abdullah, mengapresiasi keputusan Muktamar NU yang memilih mekanisme Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA) dalam proses pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Menurut Abubakar, penggunaan mekanisme AHWA tidak dapat dipandang sebagai bentuk pengingkaran terhadap demokrasi. Justru, kata dia, AHWA merupakan bagian dari tradisi musyawarah yang telah lama hidup dalam tubuh NU dan menempatkan kebijaksanaan serta penghormatan terhadap ulama sebagai pijakan utama dalam menentukan kepemimpinan organisasi.
“AHWA justru lebih bermartabat. Demokrasi tidak selalu harus dimaknai sebagai pertarungan suara. Dalam tradisi NU, musyawarah, kebersamaan, dan penghormatan terhadap ulama juga merupakan bagian dari demokrasi,” ujar Abubakar Abdullah, mantan Sekretaris Tanfidziyah NU Maluku Utara, Minggu (30/8/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menilai, mekanisme AHWA dapat menjadi jalan untuk menghindarkan proses pergantian kepemimpinan NU dari persaingan yang berlebihan. Dengan demikian, Muktamar tidak sekadar menjadi arena perebutan dukungan, tetapi juga menjadi ruang untuk memastikan regenerasi kepemimpinan tetap berlangsung dengan menjunjung persatuan dan marwah organisasi.
Abubakar juga mengingatkan bahwa AHWA bukan mekanisme baru bagi NU. Pola tersebut memiliki akar sejarah dalam perjalanan organisasi dan pernah digunakan dalam Muktamar NU ke-27 di Situbondo pada 1984.
“AHWA memiliki akar historis dalam tradisi NU. Ini bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul, tetapi bagian dari khazanah organisasi yang pernah diterapkan dalam perjalanan kepemimpinan NU,” jelasnya.
Ia berharap penerapan AHWA dalam pemilihan Ketua Umum PBNU dapat menjadi momentum untuk memperkuat kembali soliditas warga NU setelah Muktamar. Menurutnya, perbedaan pilihan dalam proses Muktamar harus segera diakhiri setelah kepemimpinan baru ditetapkan.
“Setelah Muktamar, tidak ada lagi kelompok yang menang atau kalah. Semua harus kembali bersinergi. Jangan sampai perbedaan dalam proses pemilihan justru menjadi sekat di antara sesama warga NU,” tegas Abubakar.
Ia menambahkan, tantangan NU ke depan jauh lebih besar sehingga energi organisasi tidak semestinya habis dalam dinamika internal. NU harus mampu mengonsolidasikan seluruh kekuatannya untuk menjawab persoalan umat sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan kemanusiaan.
“Energi besar NU harus diarahkan untuk kepentingan umat, bangsa, dan kemanusiaan. Muktamar harus menjadi titik awal untuk memperkuat persatuan, bukan memperpanjang perbedaan,” pungkasnya. (*)
Penulis : Ilham
Editor : Redaksi





![Ketua Lahkumham PKB Kepulauan Sula, Bakrin Duwila [Foto : karno/kasedata]](https://kasedata.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG_20260829_125026-225x129.jpg)

