Ketika Sejarah Berbisik : Brazil, Amerika, dan Penantian 24 Tahun

Senin, 29 Juni 2026 - 11:31 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Zulfikli Zam Zam [Foto : penulis/kasedata]

Zulfikli Zam Zam [Foto : penulis/kasedata]

Oleh: Zulkifli Zam Zam
(Dewan Presidium Brazil Kota Ternate)

“Sejarah tidak selalu berulang, tetapi sering kali meninggalkan jejak yang mengundang kita untuk percaya.”

Ada sebuah teori yang sering dikutip dalam kajian sejarah, meski bukan hukum yang mutlak: “History doesn’t repeat itself, but it often rhymes.” Kalimat yang populer melalui pemikiran Mark Twain ini mengandung makna bahwa sejarah tidak pernah benar-benar terulang secara persis, tetapi pola-pola tertentu kerap muncul dalam bentuk yang berbeda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam sepak bola, pola seperti ini sering melahirkan cerita yang sulit dijelaskan hanya dengan statistik. Tempat yang sama, rentang waktu yang sama, dan harapan yang sama seolah berpadu menjadi sebuah narasi yang membangkitkan keyakinan jutaan pendukung.

Piala Dunia 2026 menghadirkan sebuah kebetulan yang sulit diabaikan oleh para pencinta sepak bola, khususnya para penggemar Timnas Brazil. Bukan sekadar karena Amerika Serikat kembali menjadi salah satu tuan rumah, melainkan karena sejarah seolah sedang menyusun pola yang begitu menarik.

Pada 1970, Brazil menutup era kejayaannya dengan meraih gelar juara dunia ketiga. Setelah itu, Selecao harus menunggu selama 24 tahun untuk kembali mengangkat trofi. Penantian itu akhirnya berakhir di Amerika Serikat pada Piala Dunia 1994. Di negeri Paman Sam itulah duet legendaris Romario dan Bebeto mengantar Brazil kembali ke puncak dunia, sementara Italia yang diperkuat Roberto Baggio dan Franco Baresi harus pulang dengan kekecewaan setelah drama adu penalti.

Kini, sejarah menghadirkan cerita yang nyaris serupa.

Brazil kembali datang ke Amerika setelah 24 tahun menunggu sejak terakhir kali menjadi juara dunia pada 2002. Kala itu, generasi emas yang dipimpin Ronaldo, Rivaldo, Ronaldinho, Cafu, dan Roberto Carlos membawa pulang trofi kelima yang hingga kini masih menjadi rekor terbanyak dalam sejarah Piala Dunia.

Baca Juga :  8 Tahun Dedikasi Prof, Saiful Deni Rektor UMMU

Apakah semua ini hanya kebetulan?

Tentu saja tidak, sepak bola tidak mengenal takdir yang pasti. Tidak ada tim yang menjadi juara hanya karena angka, tempat, atau romantisme sejarah. Gelar juara ditentukan oleh kualitas permainan, kedalaman skuad, kecerdasan pelatih, mental bertanding, dan sedikit sentuhan keberuntungan.

Namun, sepak bola juga tidak pernah lepas dari cerita-cerita besar. Dan cerita-cerita besar sering lahir dari kebetulan yang kemudian dikenang sebagai sejarah.

Dalam dunia olahraga ada istilah “sporting destiny” atau takdir olahraga. Istilah ini bukan konsep ilmiah, melainkan cara para penggemar dan pengamat menggambarkan momen-momen ketika serangkaian kebetulan seolah membentuk jalan menuju sebuah akhir yang indah. Mustahil dibuktikan, tetapi berkali-kali sepak bola telah menghadirkan kisah yang melampaui logika. Gol di menit terakhir, kebangkitan tim yang nyaris tersingkir, hingga lahirnya juara yang sebelumnya tidak diunggulkan. Karena itulah, para pencinta Brazil boleh saja berharap bahwa Amerika kembali menjadi panggung lahirnya sejarah baru.

Brazil datang ke Piala Dunia 2026 dengan generasi yang penuh talenta. Mereka memang tidak lagi memiliki sosok yang mendominasi dunia seperti Ronaldo atau Ronaldinho pada masanya. Namun, mereka memiliki kolektivitas, kecepatan, kreativitas, dan kedalaman skuad yang membuat Brazil tetap menjadi salah satu kandidat kuat peraih gelar.

Yang paling menarik adalah aura yang selalu menyertai Selecao ketika tampil di panggung terbesar sepak bola. Di tengah tekanan, Brazil hampir selalu mampu melahirkan pahlawan baru. Dari Pele, Romario, Ronaldo hingga generasi-generasi berikutnya, selalu ada pemain yang muncul ketika negaranya membutuhkan.

Baca Juga :  Nikmatnya Pisang Rebus Mama Daripada MBG

Bagi jutaan pendukung Brazil di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, harapan itu kembali menyala. Bukan semata-mata karena statistik atau ramalan, tetapi karena sejarah terkadang memiliki cara unik untuk mengingatkan manusia bahwa tidak semua kebetulan harus diabaikan.

Amerika pernah menjadi tempat berakhirnya penantian 24 tahun pada 1994.

Kini, Amerika kembali menjadi panggung setelah penantian 24 tahun sejak gelar terakhir pada 2002.

Apakah sejarah sedang berbisik kepada Brasil?

Ataukah semua ini hanyalah rangkaian kebetulan yang akan berakhir tanpa makna?

Jawabannya akan ditentukan di atas lapangan, bukan oleh angka ataupun nostalgia. Namun, jika suatu hari nanti Brazil benar-benar mengangkat trofi Piala Dunia untuk keenam kalinya di Amerika, mungkin dunia akan kembali percaya bahwa dalam sepak bola, sejarah memang tidak selalu berulang, tetapi ia sering menemukan cara untuk mengingatkan kita pada kisah-kisah yang pernah membuat dunia terpukau.

Apakah ini hanya kebetulan? Mungkin. Tetapi bukankah sejarah terbesar dalam sepak bola sering kali berawal dari sesuatu yang dianggap sekadar kebetulan? Amerika telah menjadi saksi lahirnya kejayaan Brazil pada 1994. Kini, tiga dekade kemudian, negeri yang sama kembali membuka panggung. Tinggal satu pertanyaan yang belum terjawab: apakah Selecao akan kembali menulis sejarah, atau justru melahirkan kisah baru yang lebih besar dari sekadar pengulangan masa lalu…?

Kita ikuti saja kisah selanjutnya.

Penulis : Zulkifli Zam Zam

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Catatan Porprov Maluku Utara 2026
Saat Tinta Menjadi Nadi
Panggung Kehormatan : Malam Apresiasi Pendidikan Nasional 2026
Panggung Perubahan di SMA Negeri 2 Ternate
Mendengar Hari Ini, Menghubungkan Masa Depan (Road Show Kepala BPJN di Maluku Utara)
Sagu, Riwayatmu Kini
Lago Montana, Wajah Baru Pariwisata Maluku Utara
Lari di Lago Montana

Berita Terkait

Senin, 29 Juni 2026 - 11:31 WIT

Ketika Sejarah Berbisik : Brazil, Amerika, dan Penantian 24 Tahun

Kamis, 11 Juni 2026 - 16:32 WIT

Catatan Porprov Maluku Utara 2026

Senin, 1 Juni 2026 - 16:23 WIT

Saat Tinta Menjadi Nadi

Senin, 25 Mei 2026 - 11:36 WIT

Panggung Kehormatan : Malam Apresiasi Pendidikan Nasional 2026

Selasa, 19 Mei 2026 - 10:38 WIT

Panggung Perubahan di SMA Negeri 2 Ternate

Berita Terbaru

Mantan Bupati Pulau Taliabu, Aliong Mus, saat ditahan oleh Kejati Maluku Utara [Foto : Acim/kasedata]

Hukum & Peristiwa

Dugaan Korupsi, Eks Bupati Pulau Taliabu Resmi Ditahan 

Jumat, 26 Jun 2026 - 18:10 WIT