Edukasi Pemanfaatan Rempah dan Barang Bekas sebagai Pengharum Ruangan Alami Bernilai Ekonomi dan Ramah Lingkungan

Senin, 6 Juli 2026 - 15:18 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Oleh : Dr. Nurul Hidayah, SE,M.Si
(Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unkhair)

Indonesia dikenal sebagai negeri yang kaya akan rempah. Cengkeh, kayu manis, serai, pandan, jeruk, pala, jahe, dan daun-daunan aromatik mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Selama ini, rempah lebih banyak dimanfaatkan sebagai bumbu masakan, minuman herbal, atau bahan pengobatan tradisional. Padahal, rempah juga memiliki potensi lain yang menarik untuk dikembangkan, yaitu sebagai bahan dasar pengharum ruangan alami.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Gagasan pemanfaatan rempah sebagai pengharum ruangan menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat, ramah lingkungan, dan hemat biaya. Banyak produk pengharum ruangan di pasaran menggunakan aroma sintetis dan dikemas dalam bahan sekali pakai. Produk tersebut memang praktis, tetapi tidak selalu sejalan dengan prinsip pengurangan sampah rumah tangga. Karena itu, masyarakat perlu dikenalkan pada alternatif sederhana, yaitu membuat pengharum ruangan alami dari rempah lokal dan barang bekas yang masih dapat digunakan kembali.

Pengharum ruangan alami dapat dibuat dari bahan-bahan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Cengkeh memiliki aroma hangat dan kuat. Kayu manis memberikan kesan manis dan menenangkan. Serai menghadirkan aroma segar. Daun pandan memberi wangi lembut yang akrab dengan rumah tangga Indonesia. Kulit jeruk, kulit lemon, atau kulit jeruk nipis juga dapat dimanfaatkan karena memiliki aroma segar dan sering kali hanya dibuang setelah buahnya digunakan. Dengan pengolahan sederhana, bahan-bahan tersebut dapat menjadi produk rumah tangga yang bermanfaat.

Selain rempah, barang bekas juga dapat dimanfaatkan sebagai wadah atau media pengharum ruangan. Botol kaca bekas, stoples kecil, kaleng bekas, kain perca, kantong teh bekas yang sudah dibersihkan, kardus tebal, tusuk sate, bambu kecil, hingga pita sisa dapat diolah menjadi kemasan kreatif. Pemanfaatan barang bekas ini penting karena membantu mengurangi sampah sekaligus melatih masyarakat untuk melihat nilai baru dari benda yang sebelumnya dianggap tidak berguna.

Baca Juga :  Tahun Baru, KUHP Baru: Transisi Keberlakuan Hukum Pidana Nasional

Pembuatan pengharum ruangan alami dapat dilakukan dengan beberapa cara sederhana. Pertama, masyarakat dapat membuat potpourri, yaitu campuran rempah kering, bunga kering, kulit jeruk kering, dan daun aromatik yang diletakkan dalam wadah terbuka. Campuran ini dapat ditempatkan di ruang tamu, kamar, lemari, atau sudut rumah. Kedua, masyarakat dapat membuat sachet aromatik dengan memasukkan rempah kering ke dalam kain perca atau kantong kecil. Produk ini cocok diletakkan di lemari pakaian, laci, atau kendaraan. Ketiga, masyarakat dapat membuat reed diffuser sederhana menggunakan botol bekas, minyak pembawa, essential oil alami jika tersedia, dan stik bambu atau tusuk sate sebagai penyerap aroma.

Potensi pengembangan pengharum ruangan alami tidak hanya berhenti pada manfaat rumah tangga. Produk ini juga dapat menjadi peluang usaha kecil bagi masyarakat, terutama ibu rumah tangga, pemuda, mahasiswa, kelompok PKK, dan pelaku UMKM. Dengan modal yang relatif rendah, masyarakat dapat membuat produk kreatif yang memiliki nilai jual. Produk dapat dikemas dalam bentuk pengharum ruangan meja, pengharum lemari, souvenir acara, hampers, atau paket oleh-oleh berbasis rempah lokal.

Di daerah seperti Ternate dan Maluku Utara, gagasan ini memiliki nilai yang lebih kuat. Wilayah ini memiliki sejarah panjang sebagai daerah rempah. Cengkeh dan pala bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi juga bagian dari identitas budaya dan sejarah masyarakat. Karena itu, pemanfaatan rempah sebagai pengharum ruangan alami dapat dikembangkan dengan narasi lokal yang menarik. Produk tidak hanya dijual karena wanginya, tetapi juga karena membawa cerita tentang kekayaan rempah dan kreativitas masyarakat daerah.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dapat diarahkan untuk memperkenalkan cara sederhana mengolah rempah dan barang bekas menjadi produk fungsional. Edukasi dapat mencakup pemilihan bahan, proses pengeringan, pencampuran aroma, pembuatan kemasan, penentuan nama produk, perhitungan biaya produksi, hingga strategi pemasaran melalui media sosial. Pendampingan seperti ini penting agar masyarakat tidak hanya mampu membuat produk, tetapi juga memahami cara menjadikannya sebagai peluang usaha.

Namun, ada hal penting yang perlu diperhatikan. Pengharum ruangan alami dari rempah tidak boleh dipromosikan dengan klaim yang berlebihan. Produk ini dapat disebut sebagai alternatif pengharum ruangan berbahan alami, ramah lingkungan, dan bernilai kreatif. Akan tetapi, tidak tepat jika diklaim dapat menyembuhkan penyakit atau menggantikan fungsi kesehatan tertentu. Edukasi kepada masyarakat harus tetap jujur, proporsional, dan bertanggung jawab.

Baca Juga :  Catatan Pengukuhan IMM Maluku Utara; Sebuah Otokritik

Selain itu, kualitas produk juga perlu dijaga. Rempah yang digunakan harus bersih dan benar-benar kering agar tidak mudah berjamur. Wadah bekas harus dicuci, dikeringkan, dan dihias dengan baik. Jika produk dijual, kemasan sebaiknya diberi label sederhana yang memuat nama produk, bahan utama, cara penggunaan, dan anjuran penyimpanan. Hal-hal kecil seperti ini dapat meningkatkan kepercayaan konsumen dan membuat produk terlihat lebih profesional.

Pemanfaatan rempah dan barang bekas sebagai pengharum ruangan alami menunjukkan bahwa inovasi masyarakat tidak harus selalu mahal dan rumit. Bahan yang tersedia di dapur dan barang yang ada di sekitar rumah dapat diolah menjadi produk yang berguna, menarik, dan bernilai ekonomi. Dengan kreativitas, rempah tidak hanya menjadi bumbu masakan, tetapi juga dapat menjadi sumber aroma, identitas lokal, dan peluang usaha.

Gagasan ini penting untuk terus dikembangkan sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat. Di satu sisi, masyarakat belajar memanfaatkan rempah lokal secara lebih kreatif. Di sisi lain, masyarakat juga didorong untuk mengurangi sampah melalui penggunaan kembali barang bekas. Jika dilakukan secara konsisten, inovasi sederhana ini dapat mendukung ekonomi rumah tangga, memperkuat kesadaran lingkungan, dan memperkenalkan kembali kekayaan rempah sebagai bagian dari kehidupan modern.

Pada akhirnya, pengharum ruangan alami berbasis rempah dan barang bekas bukan hanya produk rumah tangga biasa. Ia adalah simbol bahwa potensi lokal dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Dari dapur, pekarangan, dan barang bekas di rumah, masyarakat dapat menciptakan produk yang wangi, ramah lingkungan, dan memiliki nilai ekonomi. Inilah bentuk sederhana dari pemberdayaan masyarakat berbasis kreativitas lokal. (*)

Penulis : Dr. Nurul Hidayah, SE,M.Si

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Brazil vs Norwegia
Ketika Sejarah Berbisik : Brazil, Amerika, dan Penantian 24 Tahun
Catatan Porprov Maluku Utara 2026
Saat Tinta Menjadi Nadi
Panggung Kehormatan : Malam Apresiasi Pendidikan Nasional 2026
Panggung Perubahan di SMA Negeri 2 Ternate
Mendengar Hari Ini, Menghubungkan Masa Depan (Road Show Kepala BPJN di Maluku Utara)
Sagu, Riwayatmu Kini

Berita Terkait

Senin, 6 Juli 2026 - 15:18 WIT

Edukasi Pemanfaatan Rempah dan Barang Bekas sebagai Pengharum Ruangan Alami Bernilai Ekonomi dan Ramah Lingkungan

Minggu, 5 Juli 2026 - 19:38 WIT

Brazil vs Norwegia

Kamis, 11 Juni 2026 - 16:32 WIT

Catatan Porprov Maluku Utara 2026

Senin, 1 Juni 2026 - 16:23 WIT

Saat Tinta Menjadi Nadi

Senin, 25 Mei 2026 - 11:36 WIT

Panggung Kehormatan : Malam Apresiasi Pendidikan Nasional 2026

Berita Terbaru

Opini

Brazil vs Norwegia

Minggu, 5 Jul 2026 - 19:38 WIT

Bus Malut United saat berada di kawasan Pelabuhan Ahmad Yani, Kota Ternate, Kamis (2/7/2026)

Olahraga

Isu Malut United Pindah ke Semarang Semakin Menguat

Kamis, 2 Jul 2026 - 16:22 WIT