Panggung Kehormatan : Malam Apresiasi Pendidikan Nasional 2026

Senin, 25 Mei 2026 - 11:36 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Aka Abdullah

Lobi utama Kantor Kementerian Pendidikan, malam tadi, 25 Mei 2026, berubah menjadi panggung kehormatan yang memukau. Sorot lampu menari di setiap sudut ruangan, sementara backdrop raksasa bertuliskan, “Malam Tasyakuran Hari Pendidikan Nasional 2026” berdiri megah sebagai pusat perhatian.

Namun, malam itu bukan sekadar seremoni penutup rangkaian Hardiknas. Lebih dari itu, malam itu adalah penghormatan bagi karya, prestasi, dan dedikasi para insan pendidikan di seluruh Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Para tamu kehormatan memadati ruangan, mulai dari Staf Khusus Presiden, Menteri Pendidikan, Wakil Menteri, pejabat eselon I dan II, Gubernur, Bupati, Wali Kota penerima penghargaan, hingga kepala dinas dan guru-guru berprestasi dari berbagai pelosok negeri.

Awalnya, saya hanya penasaran dengan undangan yang saya terima bertuliskan “Apresiasi PIP”. Untuk memahami lebih jelas, saya menghubungi Pak Mukti, penanggung jawab Program Indonesia Pintar (PIP) di kementerian. Dari beliau, saya belajar bahwa kementerian menilai pengelolaan PIP melalui tiga komponen utama :

Baca Juga :  Lari di Lago Montana

1). Pemanfaatan sistem (20%) – mencakup tingkat penggunaan dan login akun dinas maupun satuan pendidikan pada aplikasi Sipintar.
2). Pengelolaan (60%) – menilai kualitas data PIP yang lengkap dan valid, aktivasi rekening penerima, pengunduhan data KIP Digital oleh satuan pendidikan, serta kecepatan pelaksanaan aktivasi rekening.
3). Pelaporan dan konfirmasi (20%) – meliputi konfirmasi status rekening PIP oleh satuan pendidikan di Sipintar, serta pengisian data survei kendala rekening yang belum diaktivasi.

Penjelasan Pak Mukti malam itu bukan hanya menghapus kebingungan saya. Lebih dari itu, ia mengingatkan saya pada tiga sosok luar biasa : Ana, Lela, dan Purnomo.

Saya tak kuasa menahan haru ketika teringat perjalanan setahun terakhir mereka. Ketiga sahabat ini kerap menerima teguran, omelan, bahkan kemarahan dalam pekerjaan sehari-hari. Namun mereka tidak pernah mengeluh. Diam, bekerja, memperbaiki, dan menyelesaikan semuanya dengan dedikasi penuh hingga menghasilkan prestasi yang membanggakan.

Baca Juga :  Jatuh Sakit Bukan Berarti Menghalangi Mimpi Sarjanaku

Begitu pula para kepala sekolah pengelola PIP yang merasakan langsung tantangan berat tersebut. Penghargaan malam itu sejatinya bukan untuk saya. Penghargaan itu milik tiga sahabat terbaik di kantor dinas, dan juga milik ibu-bapak kepala sekolah yang dengan diam-diam memastikan hak-hak pendidikan anak-anak tetap terpenuhi.

Akhirnya, saya menyadari bahwa setiap penghargaan memiliki panggung kehormatannya sendiri. Dan malam itu, panggung itu dibangun dari kerja keras, kesabaran, pengabdian, dan ketulusan banyak orang. Mari kita fokus bekerja, karena semesta selalu menghargai mereka yang tulus berkarya. (*)

Penulis : Aka Abdullah

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Menatap Layar atau Buku : Krisis Fokus Pelajar di Era Digital
Keadilan Fiskal Profetik
Menjaga Data, Merawat Kepercayaan, Menguatkan Suara Daerah
Merampas atau Memulihkan
Ko Nan, Jurnalis yang Istiqamah
Siapa Peduli Persiter Ternate ?
Persiter Sebagai Simbol Harga Diri 
Jatuh Sakit Bukan Berarti Menghalangi Mimpi Sarjanaku

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 16:08 WIT

Menatap Layar atau Buku : Krisis Fokus Pelajar di Era Digital

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:18 WIT

Keadilan Fiskal Profetik

Kamis, 3 September 2026 - 21:15 WIT

Menjaga Data, Merawat Kepercayaan, Menguatkan Suara Daerah

Selasa, 1 September 2026 - 20:56 WIT

Merampas atau Memulihkan

Selasa, 11 Agustus 2026 - 20:20 WIT

Ko Nan, Jurnalis yang Istiqamah

Berita Terbaru