(Membaca Karya Alfajri A. Rahman tentang Jalan Pulang)
Oleh : M. Guntur Alting
(Dosen FISIP UMJ Jakarta)ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
ADA banyak cara untuk merayakan kehidupan. Bagi sebagian orang, itu berarti menumpuk harta.
Bagi sebagian lainnya, mungkin mencari popularitas di panggung-panggung megah.
Namun bagi Alfajri A. Rahman, dalam bukunya “Semua Akan Kembali: Tak Sekedar Aktivis & Jurnalis,” merayakan kehidupan berarti menolak untuk diam di hadapan ketidakadilan.
Membaca catatan-catatan Alfajri membawa kita pada sebuah perjalanan yang terasa “sangat personal.” Ia tidak menulis dari atas menara gading yang jauh dari tanah dan debu.
Ia menulis dari “lapangan” yang sesungguhnya—tempat di mana suara warga sering kali tenggelam oleh kebisingan birokrasi, atau di mana nasib sebuah kebijakan ditentukan di ruang-ruang tertutup.
Alfajri adalah seorang pengelana. Ia berdiri di persimpangan dua jalan yang sering dianggap berseberangan: aktivisme dan jurnalisme.
Di satu sisi, ia dituntut oleh kaidah jurnalisme untuk menjadi pengamat yang objektif. Di sisi lain, sebagai aktivis, ia adalah seorang partisipan yang hatinya mudah terbakar jika melihat hak-hak rakyat diabaikan.
Dalam buku ini, kita akan dibawa berkeliling dari hiruk-pikuk isu nasionalisme di era pandemi, hingga persoalan lokal yang terasa begitu dekat di kulit kita—seperti pembangunan Pelabuhan Hiri yang penuh drama, atau perjuangan masyarakat di Kelurahan Rua.
Alfajri memotret semuanya dengan kepekaan seorang jurnalis yang teliti, namun ditulis dengan kegelisahan seorang aktivis yang mencintai tanah kelahirannya.
Yang paling memikat dari tulisan Alfajri adalah caranya mengingatkan kita tentang “rumah”. Judul bukunya, Semua Akan Kembali, bukan sekadar frasa puitis.
Itu adalah pengingat bahwa jabatan itu fana, proyek itu bisa selesai, namun jejak kebaikan dan integritas adalah sesuatu yang akan selalu kita bawa pulang ke muara terakhir.
Ia mengajak kita untuk tidak menjadi orang-orang yang kehilangan arah di tengah gemerlap dunia. Alfajri menunjukkan bahwa menulis, bagi dia, adalah jalan untuk membasuh jiwa.
Sebuah upaya agar kita tidak menjadi batu di tengah sungai yang mengalir, atau debu yang terbang tanpa arah.
Jika Anda mencari buku yang tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan terdalam Anda, maka buku ini adalah kawan seperjalanan yang tepat.
Alfajri telah selesai menulis, ia telah menitipkan kegelisahannya pada kertas-kertas ini.
Kini, giliran kita untuk bertanya: sudah sejauh mana kita melangkah, dan ke mana kita akan kembali?
Trimakasih atas kiriman karya bukunya, sebuah catatan dari saya yang agak telat, namun pada akhirnya tuntas juga mengkhatamkanya. (*)
Ciputat, 1 Juni 2026
Penulis : M. Guntur Alting
Editor : Redaksi




![Kepala Bidang Pengawasan K3 Disnakertrans Malut, Nirwan M. Turuy [ Foto : istimewa]](https://kasedata.id/wp-content/uploads/2026/06/IMG_20260601_185737-225x129.jpg)

![Tim E-Sport Kota Ternate yang siap berlaga di PORPROV V 2026 [dok : kasedata]](https://kasedata.id/wp-content/uploads/2026/06/IMG_20260601_180420-225x129.jpg)

![Prosesi pelepasan ditandai dengan penyerahan petaka bendera dari Wali Kota Ternate kepada Ketua Kontingen sebagai simbol kesiapan Kota Ternate mengikuti PORPROV V Maluku Utara [Foto : edohuka/kasedata]](https://kasedata.id/wp-content/uploads/2026/06/IMG_20260601_134536-225x129.jpg)
