Jika Anggaran MBG Naik, Maluku Utara Berisiko Terdampak

Jumat, 29 Agustus 2025 - 19:14 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Akademisi Universitas Khairun Ternate, Nurdin Muhammad || Foto : istimewa

Akademisi Universitas Khairun Ternate, Nurdin Muhammad || Foto : istimewa

Kasedata.id – Presiden Prabowo Subianto dalam pidato Rancangan UU APBN dan Nota Keuangan pada sidang Tahunan MPR beberapa waktu lau, menyebut anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 2026 akan naik mencapai Rp335 triliun dari sebelumnya Rp71 triliun.

Akademisi Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Nurdin Muhammad, menilai jika lonjakan anggaran itu berpotensi mengorbankan program penting lainnya yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat Indonesia. Menurutnya, kebijakan kenaikan anggaran MBG berisiko menekan ruang fiskal daerah khususnya di Maluku Utara.

“Jika porsi anggaran pusat terserap sangat besar untuk MBG, transfer ke daerah bisa semakin terbatas. Ini berpotensi membuat Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), maupun dana infrastruktur menurun. Akibatnya, kemampuan daerah membiayai pembangunan di luar sektor pendidikan akan tertekan,” jelas Nurdin.

Ia mengakui, program MBG penting bagi peningkatan gizi anak sekolah. Namun tanpa perencanaan matang, kebijakan ini justru bisa mengurangi kemampuan daerah membiayai sektor lain, seperti kesehatan, infrastruktur dasar, pengentasan kemiskinan, hingga penguatan ekonomi lokal.

Nurdin juga mengingatkan potensi persoalan teknis di lapangan. Dengan anggaran sebesar itu, daerah bisa kewalahan dalam hal distribusi makanan, pengawasan kualitas, hingga risiko penyalahgunaan anggaran. “Ini rentan menjadi celah korupsi,” tegasnya.

Lebih jauh, ia menilai program ini berpotensi menimbulkan ketergantungan daerah pada anggaran pusat jika tidak disinergikan dengan ekonomi lokal.

Baca Juga :  DLH Dikecam, Sampah di Jantung Kota Sanana Dibiarkan Berserakan

“Padahal mestinya MBG bisa membuka peluang pemberdayaan, misalnya dengan melibatkan petani lokal atau pelaku UMKM sebagai penyedia bahan pangan,” katanya.

Tak hanya itu, anggaran besar MBG juga rawan menjadi komoditas politik. Tanpa transparansi dan desain yang tepat bisa muncul konflik kepentingan antara pusat dan daerah serta menimbulkan beban fiskal jangka panjang.

Nurdin menekankan bahwapemerintah pusat perlu memastikan desain program tidak hanya bersifat top-down, melainkan memberi ruang bagi daerah untuk mengintegrasikan potensi lokal.

“Idealnya MBG harus menghadirkan manfaat berlipat bagi masyarakat daerah, bukan sekadar menambah beban fiskal,” pungkasnya. (*)

Penulis : Sukarsi Muhdar

Editor : Sandin Ar

Berita Terkait

Ternate Tetapkan Tanggap Darurat, Titik Panas TPA Masih Mengancam
Gubernur Sherly Tegas, PT Intimkara Kena SP1 : Tak Perform, Putus Kontrak
Karhutla TPA Takome, Kodam XXVIII Moloku Kie Raha Siaga
KORMI Sula Segera Dilantik, Siapkan Olahraga Tradisional 2027
Maluku Utara Kebagian APBN Rp 160 Miliar, Ribuan Rumah Masuk Program Bedah
Kepala Balitbangda Malut Segera Ditentukan, BKD : SK Disiapkan
Pemprov Malut Lepas 40 Peserta Wisata Rohani ke Yerusalem
Persiapan Diklat Laskar Gerindra Malut Terus Dimatangkan, 400 Kader Bakal Digembleng

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 23:37 WIT

Ternate Tetapkan Tanggap Darurat, Titik Panas TPA Masih Mengancam

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:57 WIT

Gubernur Sherly Tegas, PT Intimkara Kena SP1 : Tak Perform, Putus Kontrak

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:24 WIT

Karhutla TPA Takome, Kodam XXVIII Moloku Kie Raha Siaga

Selasa, 6 Oktober 2026 - 19:32 WIT

KORMI Sula Segera Dilantik, Siapkan Olahraga Tradisional 2027

Selasa, 6 Oktober 2026 - 19:16 WIT

Maluku Utara Kebagian APBN Rp 160 Miliar, Ribuan Rumah Masuk Program Bedah

Berita Terbaru

Personel Kodam XXVIII/Moloku Kie Raha saat melakukan pemantauan terhadap titik karhutla di lokasi TPA Takome

Peristiwa

Karhutla TPA Takome, Kodam XXVIII Moloku Kie Raha Siaga

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:24 WIT