Kasedata.id – Sejumlah wartawan yang meliput pertandingan BRI Super League di Stadion Gelora Kie Raha, Ternate, mengalami perlakuan tidak menyenangkan dari seorang pria yang diduga merupakan official tim Malut United.
Insiden tersebut terjadi setelah salah satu wartawan Radio Republik Indonesia (RRI) Ternate merekam dokumentasi perjalanan perangkat pertandingan usai laga. Pria tersebut kemudian mendatangi wartawan dan melakukan intimidasi dengan meminta agar rekaman video tersebut segera dihapus.
Tak hanya menekan wartawan untuk menghapus video, pria itu juga meminta steward stadion mengusir sejumlah jurnalis yang sedang berada di lokasi, meski para wartawan telah menggunakan ID Card resmi Super League.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kamu wartawan, kamu harus hapus video itu,” teriaknya sembari memprovokasi sejumlah suporter yang berada di sekitar area tribun, Sabtu (7/3/2026).
Situasi di sekitar stadion pun sempat memanas usai pertandingan. Oknum yang sama bahkan terlihat membuntuti wasit hingga ke area ruang ganti. Setibanya di depan pintu ruang ganti, ia beberapa kali menggedor pintu dengan keras sambil melontarkan umpatan dan ancaman kepada wasit yang berada di dalam ruangan.
Kondisi tersebut membuat tim perangkat pertandingan memilih tetap bertahan di dalam ruang ganti guna menghindari potensi konflik yang lebih besar. Akibatnya, tim wasit tertahan di dalam stadion selama kurang lebih satu setengah jam setelah pertandingan berakhir.
Para wasit baru dapat meninggalkan stadion sekitar pukul 00.20 WIT, setelah pihak kepolisian bersama steward memastikan area stadion telah steril dari potensi intimidasi, baik dari suporter maupun oknum official tim.
Dalam insiden tersebut, pemilik utama Malut United FC, David Glen Oei, yang berada di lokasi kejadian juga sempat menegur sejumlah wartawan.
“Kamu dari mana ?, Kalau dari Ternate kenapa tidak mendukung kami,” ujar David kepada wartawan yang berada di area tribun.
Pimpinan Media Halmahera Post, Firjal Usdek, yang turut berada di lokasi, menyampaikan kekecewaannya atas perlakuan yang diterima para jurnalis.
Menurutnya, keberadaan wartawan di tribun stadion telah sesuai dengan aturan karena mereka menggunakan identitas resmi peliputan.
“Kami berada di tribun dengan menggunakan ID Card yang lengkap dan tidak melewati batas area peliputan,” ujar Firjal.
Ia juga menegaskan bahwa tindakan intimidasi yang dilakukan oknum official Malut United dengan meminta wartawan menghapus rekaman video merupakan tindakan yang bertentangan dengan Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999.
“Kami sangat kecewa atas perlakuan yang kami terima malam ini,” tegasnya.
Diketahui, dalam pertandingan tersebut Malut United yang bertindak sebagai tuan rumah harus puas berbagi poin setelah ditahan imbang oleh tim tamu PSM Makassar dalam laga yang berlangsung di Stadion Gelora Kie Raha, Ternate. (*)
Penulis : Ilham
Editor : Redaksi







