Oleh: Musadat Ishak
Tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan napas kehidupan yang menjaga identitas dan kebersamaan suatu masyarakat. Di wilayah Halmahera, tepatnya di kawasan Gamrange (Patani, Maba, dan Weda) di Maluku Utara, terdapat sebuah tradisi unik yang sarat makna spiritual dan sosial : Cokaiba.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tradisi ini menjadi bagian penting dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, sekaligus mencerminkan kearifan lokal yang mampu mempererat persatuan masyarakat. Cokaiba sering dikenal sebagai “topeng setan” karena para pesertanya mengenakan topeng dengan rupa menyeramkan. Namun, di balik visual yang tampak kontras dengan nilai religius, tersimpan filosofi yang mendalam.
Kata “Cokaiba” sendiri berasal dari bahasa Tidore yang berarti “bermuka setan”. Makna ini bukanlah ajakan pada keburukan, melainkan simbol refleksi diri—bahwa manusia memiliki sisi gelap yang harus dikendalikan dan ditinggalkan demi mencapai kesempurnaan akhlak.
Dalam konteks ini, Cokaiba menjadi media dakwah kultural. Ia mengajarkan bahwa perjalanan manusia bukan hanya fisik, tetapi juga spiritual : dari sifat buruk menuju kebaikan, dari kegelapan menuju cahaya. Nilai ini sangat relevan dengan semangat Maulid Nabi, yang memperingati kelahiran sosok pembawa rahmat dan teladan moral bagi umat manusia.
Lebih dari sekadar simbol, Cokaiba juga kaya akan filosofi penciptaan manusia. Terdapat empat jenis utama: Kayu (api), Gof (angin), Iripala (air), dan Nok (tanah). Keempat unsur ini mencerminkan elemen dasar kehidupan yang membentuk manusia secara utuh. Menariknya, jumlah Cokaiba dalam satu perayaan sering kali mencapai 99, merujuk pada Asmaul Husna sebuah pengingat akan sifat-sifat mulia Tuhan yang patut diteladani.
Pelaksanaan Cokaiba setiap 12 Rabiul Awal tidak hanya menjadi agenda ritual, tetapi juga ruang interaksi sosial yang kuat. Masyarakat dari berbagai latar belakang berkumpul, berpartisipasi, dan merayakan bersama. Para peserta mengenakan kostum khas seperti jubah atau kebaya, menciptakan suasana yang meriah sekaligus sakral.
Pada puncak acara, tradisi berebut makanan menjadi simbol kebersamaan dan pemerataan bahwa rezeki harus dibagi, bukan dimonopoli. Di sinilah letak kekuatan Cokaiba sebagai spirit pemersatu. Ia menghapus sekat-sekat sosial, menyatukan generasi tua dan muda, serta mempertemukan nilai adat dan ajaran agama dalam harmoni yang indah.
Dalam dunia yang semakin individualistik, tradisi seperti ini menjadi pengingat penting bahwa kebersamaan adalah fondasi utama kehidupan masyarakat. Namun, di tengah arus modernisasi, Cokaiba menghadapi tantangan besar. Globalisasi dan perubahan gaya hidup berpotensi menggerus minat generasi muda terhadap tradisi lokal.
Oleh karena itu, upaya pelestarian harus dilakukan secara kreatif dan adaptif melalui dokumentasi digital, pendidikan budaya, hingga integrasi dalam kegiatan pariwisata berbasis kearifan lokal. Cokaiba bukan sekadar tontonan budaya, melainkan tuntunan nilai. Ia mengajarkan introspeksi, kebersamaan, dan keseimbangan antara dunia spiritual dan sosial.
Dengan menjaga dan menghidupkan kembali tradisi ini, masyarakat Gamrange tidak hanya melestarikan warisan leluhur, tetapi juga memperkuat identitas dan persatuan di tengah perubahan zaman.
Pada akhirnya, Cokaiba adalah cermin kehidupan : bahwa di balik wajah “menyeramkan”, terdapat pesan kebaikan yang mendalam. Dan dari sanalah, lahir kekuatan untuk bersatu, saling memahami, dan berjalan bersama menuju masa depan yang lebih harmonis. (*)
Penulis : Musadat Ishak
Editor : Redaksi



![Rizal Marsaoly saat membuka Liga Pelajar SD se-Kota Ternate [Foto : Ongky/kasedata]](https://kasedata.id/wp-content/uploads/2025/11/Picsart_25-11-29_15-42-42-814-225x129.jpg)


