EMBUN

Senin, 23 Maret 2026 - 09:07 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Almun Madi

Almun Madi

Oleh : Almun Madi
Dosen/Angkatan Muda Muhammadiyah

”Berpagi-pagi di atas fitrah islam, di atas kalimat ikhlas, di atas agama nabi Muhammad SAW, dan di atas millah Ibrahim”. Hari ini, sebagian dari kita barangkali telah yakin kembali ke fitrah dan memeriahkan kemenangan. Tapi sebagian kita juga dalam keraguan yang panjang: apakah meraih kemenangan? Tentu pula sebagian dalam kealpaan dan kerugian memanfaatkan satu etape perjuangan di bulan ramadhan. Tapi apakah ke-fitrah-an di hari ini, laksana embun yang membasahi dedaunan, memberi kesejukan dan kesuburan di sekitarnya?

Sebab kita menjemput hari fitrah dalam kegaduhan. Betapa tidak, kita gaduh dalam penentuan hari kemenangan (1 Syawal 1447H), berdebat tunjangan hari raya, kita gaduh dalam hal-hal konsumtif, terperangkap dalam sangkar konsumerisme dan hedonisme maha tinggi. Seakan fitrah yang terpahatkan hanya untuk individu, sementara ruang publik dalam kegaduhan. Tidak seperti embun; segar, sejuk, asri dan menyuburkan.

Adalah ironi, saat negara muslim lain memamerkan teknologi tingkat tinggi, menunjukkan diri sebagai negara yang mampu memadukan agama, science dan teknologi. Kita masih berdebat ikhwal rukyatul hilal, THR, ijazah palsu, profesor palsu, siswa keracunan makanan bergizi, saling intrik demi meraih jabatan dan seabrek tema yang membawa kita pada jurang pragmatisme. Fatalnya, kampus sebagai benteng peradaban ikut-ikutan terseret. Sikap dan pola pikir pragmatisme ini sekaligus mengikis rasa optimisme, idealisme, rasionalitas, dan positivisme kita sebagai warga bangsa. Kita rapuh, lunglai dan menjadi pesimistis pada kemajuan bangsa.

Kegaduhan yang menyelimuti wajah bangsa saat ini setidaknya menjadi cerminan, bahwa kita luput menjaga kewarasan dan kebatinan kita sebagai bangsa yang kuat. Sebab di hari-hari terakhir ini kita juga menemukan pelbagai pola laku berbangsa yang instan. Dimana pergaulan dan perkawanan berdasar materi, pusat kekuasaan mengatur negara berdasar kepentingan kelompok dan partai sementara rakyat semakin jauh dari kemakmuran. Dalil kesejahteraan dan keadilan menjadi hampa dan karakter bangsa (nation bulding) berbasis ideologi pancasila makin tergerus.

Kegaduhan juga dapat kita temui pada konteks tata kelola Sumber Daya Alam, rakyat diambang kerugian. Sebab melejitnya grafik pertumbuhan ekonomi dengan dalil hilirisasi sangat paradoksal dengan nasib rakyat di pesisir, pulau-pulau, seputaran pabrik industri, dan lingkar tambang. Terutama pada sektor pertambangan dan hilirisasi nikel, kita tidak mampu memproduk konsentrat menjadi barang jadi, hanya setengah jadi berupa feronikel, pun pabrik-pabrik hilirisaasi bukan ”made in indonesia”. Kebijakan membangun pabrik dalam negeri ternyata ”jauh panggang dari api” dengan rezim orde baru, dimana konsetrat diekspor secara mentah. Kondisi ini sekaligus memperparah nasib keberlanjutan lingkungan kita.

Baca Juga :  Dibalik Gemerlap Emas PT. TUB Halmahera Barat

Pada kondisi demikian, sebagai negara muslim terbesar di dunia, sejatinya kita memutar ulang memori untuk mengenali keragaman kita sebagai kekuatan membangun peradaban. Menguatkan jati diri kita sebaga bangsa plural. Bersama dalam mencintai ilmu dan memadukan agama, science dan teknologi. Membangun paradigma yang kokoh, berani untuk belajar dari kemajuan bangsa lain. Menghadirkan teks-teks ilahia sebagai fondasi dalam merancang_bangun negara.

Mansur Fakih dalam teologi pembebasannya, bahwa agama tidak boleh hanya berhenti pada ritual kesalehan pribadi, tetapi harus menjadi media untuk melakukan perubahan sosial dan sebagai alat melawan ketidakadilan struktural. Untuk itu, kesucian dan kemenangan yang digapai hari ini tentu bukan untuk diri sendiri melainkan diupayakan untuk kemaslahatan ummat dan bangsa. Mempertautkan kesalehan religius dengan kesalehan sosial, mengedepankan nilai (value) dalam wilayah kontekstual: pendidikan, politik, lingkungan, hukum, sosial dan budaya. Sehingga kita benar-benar menjadi embun di pagi hari yang menyejukkan dan menyuburkan. Maaf Lahir Batin. (*)

Penulis : Almun Madi

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Ko Nan, Jurnalis yang Istiqamah
Siapa Peduli Persiter Ternate ?
Persiter Sebagai Simbol Harga Diri 
Jatuh Sakit Bukan Berarti Menghalangi Mimpi Sarjanaku
Edukasi Pemanfaatan Rempah dan Barang Bekas sebagai Pengharum Ruangan Alami Bernilai Ekonomi dan Ramah Lingkungan
Brazil vs Norwegia
Ketika Sejarah Berbisik : Brazil, Amerika, dan Penantian 24 Tahun
Catatan Porprov Maluku Utara 2026

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 20:20 WIT

Ko Nan, Jurnalis yang Istiqamah

Sabtu, 25 Juli 2026 - 14:38 WIT

Siapa Peduli Persiter Ternate ?

Jumat, 24 Juli 2026 - 15:16 WIT

Persiter Sebagai Simbol Harga Diri 

Jumat, 10 Juli 2026 - 20:00 WIT

Jatuh Sakit Bukan Berarti Menghalangi Mimpi Sarjanaku

Senin, 6 Juli 2026 - 15:18 WIT

Edukasi Pemanfaatan Rempah dan Barang Bekas sebagai Pengharum Ruangan Alami Bernilai Ekonomi dan Ramah Lingkungan

Berita Terbaru

Daerah

Perhapi Malut Perkuat Koordinasi Jelang TPT XXXV

Minggu, 16 Agu 2026 - 07:08 WIT