Sumur dari Demak : Mengenang Sahabat Fathan Subchi

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 09:14 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Muhaimin Iskandar

Di kampung-kampung pesisir utara Jawa, dahulu banyak rumah memiliki sumur di halaman. Sumur itu tidak berpagar. Siapa saja boleh datang menimba: tetangga, orang yang lewat, hingga musafir yang kehausan. Pemiliknya tidak pernah bertanya siapa yang datang, dari mana asalnya, atau kapan akan membalas kebaikan tersebut. Orang-orang tua kami percaya, sumur yang sering ditimba justru airnya tetap jernih. Sebaliknya, sumur yang dikunci dan dibiarkan lama-kelamaan airnya akan keruh, lalu mati.

Fathan Subchi adalah sumur semacam itu. Ia lahir dan besar di Demak, di tanah tempat nilai-nilai tersebut masih hidup, dan membawanya ke mana pun ia pergi. Siapa pun boleh menimba darinya: mahasiswa yang tidak sanggup membayar kuliah, pasangan muda yang rumah tangganya membutuhkan pertolongan, bahkan orang yang baru kemarin sore dikenalnya. Seperti sumur di kampung, semakin banyak yang menimba, semakin jernih pula airnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Minggu, 25 Oktober 2026, sumur itu berhenti mengalir. Kabar datang dari Moskow, ribuan kilometer dari Demak. Sahabat saya berpulang dalam usia 56 tahun, saat sedang bertugas. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Saya lama terdiam. Bukan hanya karena kehilangan, tetapi juga karena cara ia pergi terasa begitu “Fathan”: sedang bekerja, sedang dalam perjalanan, sedang dalam keadaan musafir, dan sedang menunaikan amanah. Fathan memang bukan sumur yang hanya menunggu ditimba. Ia adalah sumur yang berjalan, mendatangi orang-orang yang kehausan. Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah benar-benar berhenti berangkat.

Fathan adalah Kita

Fathan lahir di Demak, 11 Februari 1970. Demak adalah Kota Wali, tanah tempat Islam Nusantara tumbuh dari surau dan pesantren, dari sawah dan pesisir. Dari sanalah mata air kehidupannya berasal: tradisi pesantren, adab kepada kiai, dan kebiasaan orang desa yang tidak pernah menghitung-hitung pertolongan.

Saya selalu merasa, Fathan adalah kita. Ia merupakan wajah generasi santri pada masa itu dan, sayangnya, juga wajah banyak anak santri hari ini. Bagi kaum santri, kuliah adalah sebuah kemewahan. Tidak semua memiliki biaya untuk melanjutkan pendidikan. Pintu itu baru terbuka jika ada beasiswa, entah beasiswa resmi maupun uluran tangan orang-orang baik hati.

Fathan lahir di kampung dan tumbuh dalam keluarga miskin dengan kehidupan yang sangat berat. Ayahnya seorang guru agama sekaligus pegawai negeri dengan gaji yang tidak seberapa. Fathan sempat kuliah di salah satu IAIN di Jawa Tengah, tetapi hanya bertahan selama dua semester. Ayahnya tidak sanggup lagi membiayai pendidikannya sehingga Fathan terpaksa berhenti. Bagi anak kampung, itu bukan sekadar jeda. Pada saat seperti itulah sebuah mimpi bisa padam begitu saja.

Namun, Fathan tidak berhenti berangkat. Ia menuju Jakarta dengan bekal sederhana: ilmu, keberanian, dan niat. Di sana, ia bisa kembali kuliah karena memperoleh beasiswa. Itulah hukum besi bagi anak miskin dari kampung: ia hanya bisa kuliah jika mendapatkan beasiswa atau ada orang yang bersedia membantu. Tidak ada nama besar yang menjaminnya, tidak ada jalan pintas. Fathan beruntung mendapatkan salah satu pintu itu dan tidak pernah melupakannya. Selebihnya adalah kesediaannya untuk bekerja lebih keras daripada siapa pun.

Baca Juga :  Jenazah Sahril Ditemukan, Sosok Jurnalis dalam Misi Kemanusiaan

Ayah Fathan pernah bercerita kepada saya bahwa nasib keluarganya baru membaik setelah Gus Dur menjadi presiden. Gaji guru PNS mendadak meningkat tajam. Kehidupan yang selama bertahun-tahun serba kekurangan perlahan menjadi lebih lapang. Sumur keluarga itu pernah nyaris kering, lalu airnya kembali mengalir.

Cerita sederhana itu tidak pernah saya lupakan karena di situlah letak makna perjuangan kami. Politik bukan soal kursi. Politik adalah soal apakah keputusan yang dibuat di Jakarta sampai ke dapur seorang guru agama di Demak. Itulah yang diperjuangkan Gus Dur, dan itu pula yang kemudian kami bawa ke PKB. Fathan memahaminya lebih dari siapa pun karena ia mengalaminya sendiri.

Hari ini, masih banyak Fathan lain di kampung-kampung kita. Mereka adalah anak-anak santri yang cerdas dan gigih, tetapi terancam berhenti di tengah jalan karena tidak memiliki biaya. Perjuangan Fathan belum selesai karena cerita hidupnya masih terus berulang.

Bertemu di PMII

Saya mengenal Fathan di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Di PB PMII, kami menemukan rumah. Di sana, kami berdebat hingga larut malam, belajar membaca bangsa ini dengan cara pandang Ahlussunnah wal Jamaah, serta menyadari bahwa anak-anak santri dari pelosok negeri juga berhak ikut menentukan arah Indonesia.

Ketika saya maju sebagai calon Ketua Umum PB PMII, Fathan termasuk orang yang berdiri di samping saya. Ia menjadi bagian dari tim sukses, sebuah istilah yang terlalu formal untuk menggambarkan apa yang sebenarnya ia kerjakan. Ia mengetuk pintu demi pintu dan mendatangi cabang demi cabang. Ia meyakinkan sahabat-sahabat dengan cara yang paling dikuasainya, yakni kesungguhan. Jika ia percaya pada sesuatu, ia akan bekerja untuk itu tanpa perlu diminta dua kali.

Di situlah saya pertama kali menimba dari sumur itu. Sejak saat itu, persahabatan kami tidak pernah selesai.

Menjaga Sumur Bersama

Perjalanan kemudian membawa Fathan ke Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Di PKB, Fathan menjadi kader yang bisa diandalkan. Ia bukan orang yang paling sering tampil, tetapi justru yang paling sering hadir ketika dibutuhkan. Rakyat Kudus, Jepara, dan Demak dua kali mempercayakan suaranya kepadanya, mengantarkannya ke DPR RI untuk periode 2014–2019 dan 2019–2024.

Di Senayan, ia memilih medan yang tidak populer, tetapi sangat menentukan, yakni Komisi XI yang membidangi keuangan negara, perbankan, dan perencanaan pembangunan. Ia bahkan dipercaya menjadi Wakil Ketua Komisi XI.

Sejak Oktober 2024, ia melanjutkan pengabdiannya sebagai Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI. Saya selalu merasa, semua tugas itu sangat cocok untuknya. Keuangan negara. Fathan, anak kampung yang memahami betul arti sebuah sumur, kini bertugas menjaga agar sumur itu tidak keruh, tidak dikunci untuk segelintir orang, dan setiap tetes airnya dapat dipertanggungjawabkan. Dari Moskow, ia pulang dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan.

Baca Juga :  Fathan Subchi Dijadwalkan Lantik Pengurus IKA-PMII Malut

Kebaikan yang Tidak Diumumkan

Namun, orang tidak akan mengenang Fathan karena jabatannya. Orang akan mengenangnya karena kebaikannya.

Hari-hari ini, cerita tentang Fathan datang dari mana-mana. Ada anak-anak muda yang dahulu nyaris berhenti kuliah karena tidak sanggup membayar, lalu tiba-tiba urusannya selesai dan baru belakangan mengetahui siapa yang telah menolong. Ada pasangan muda yang ia bantu menyelesaikan persoalan rumah tangganya. Ada pula orang-orang yang baru sebentar dikenalnya, yang bahkan belum sempat berbuat apa-apa untuknya, tetapi sudah ia tolong seperti saudara sendiri.

Fathan tidak pernah mengumumkan kebaikannya. Ia menolong seperti sumur kampung yang memberikan air : tanpa proposal, tanpa syarat, dan tanpa menunggu balasan. Ia tahu persis bagaimana rasanya harus berhenti kuliah karena tidak ada biaya. Ia juga tahu betul bahwa dirinya bisa kembali kuliah hanya karena ada orang yang membukakan pintu. Karena itu, setiap kali ada anak muda yang terancam putus kuliah, ia seperti sedang melihat dirinya sendiri. Ia pernah ditolong, lalu memilih menjadi penolong. Ia tidak ingin ada lagi Fathan muda yang pulang ke kampung dengan mimpi yang padam.

Maka, ketika ia dipercaya memimpin PB IKA PMII, rasanya sangat tepat. Jauh sebelum ada jabatan yang menyebutnya demikian, ia sudah lama menjadi tempat banyak orang menimba.

Pejuang Sesungguhnya

Kita sering menggunakan kata “pejuang” terlalu ringan, bahkan terlalu sering mengobralnya. Namun, bagi Fathan, kata itu menemukan maknanya. Ia berjuang tanpa henti: dari kampung ke kampus, dari kampus ke partai, dari partai ke parlemen, dan dari parlemen ke lembaga negara. Ia wafat di negeri yang jauh, dalam perjalanan yang belum selesai. Dari Demak ke Jakarta, dari Jakarta ke Moskow. Perjalanannya panjang, tetapi arahnya tidak pernah berubah, yaitu MENGABDI.

Kepada keluarga yang ditinggalkan, saya ingin mengatakan bahwa Fathan tidak hanya milik kalian. Ia juga milik ribuan orang yang pernah menimba darinya, kader-kader yang pernah ia besarkan, dan bangsa yang ia layani dengan sungguh-sungguh. Kehilangan ini kita tanggung bersama.

Sumur itu kini mungkin telah kering di dunia. Namun, airnya sudah mengalir ke ribuan halaman, dan kami yang pernah menimbanya memiliki utang untuk terus mengalirkannya.

Selamat jalan, Sahabat. Semoga Allah SWT mengampuni segala khilafmu, menerima seluruh amal baikmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya. Al-Fatihah.

Muhaimin Iskandar, sahabat almarhum sejak di PB PMII.

(*)

Penulis : Muhaimin Iskandar

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Tonny S Pontoh, Dari Ajudan Gubernur ke Medan Bencana Ternate
Anak Desa dari Sula Raih Juara Motivator Putra Duta Genre Indonesia
Empat Karya Nurangsih S. Hasan, dari Krisis Moral hingga Cerita Timur
Nurcholis, Dokter Spesialis Saraf Pulang Mengabdi di Bumi Hibualamo
Berpulangnya Sang Visioner : Mengenang Bapak M. Al Yasin Ali
Ko Nan, Jurnalis yang Istiqamah
Paskibraka Nasional, Haikal Kadafi Jadi Inspirasi Generasi Muda Ternate
Selasa 12 Mei, Jenazah Mantan Wali Kota Tiba di Ternate

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 09:14 WIT

Sumur dari Demak : Mengenang Sahabat Fathan Subchi

Jumat, 2 Oktober 2026 - 15:03 WIT

Tonny S Pontoh, Dari Ajudan Gubernur ke Medan Bencana Ternate

Kamis, 24 September 2026 - 10:20 WIT

Anak Desa dari Sula Raih Juara Motivator Putra Duta Genre Indonesia

Senin, 7 September 2026 - 21:42 WIT

Empat Karya Nurangsih S. Hasan, dari Krisis Moral hingga Cerita Timur

Senin, 7 September 2026 - 14:38 WIT

Nurcholis, Dokter Spesialis Saraf Pulang Mengabdi di Bumi Hibualamo

Berita Terbaru

Sosok

Sumur dari Demak : Mengenang Sahabat Fathan Subchi

Sabtu, 31 Okt 2026 - 09:14 WIT

Ikan-ikan yang didapat oleh salah satu tim peserta lomba Obi Fishing Tournament 2026

Daerah

Obi Fishing Tournament Jadi Magnet Festival Harmoni Obi

Jumat, 30 Okt 2026 - 09:28 WIT

Sekda Kabupaten Pulau Taliabu, Dr. Yosar Kardiat bersama Wakil Gubernur Maluku Utara dan jajaran Forkompimda Malut. || Foto : Kasedata.id

Daerah

Sekda Yosar Bawa Potensi Taliabu ke Panggung Investasi

Kamis, 29 Okt 2026 - 21:30 WIT