Kasedata.id – Penulis sekaligus akademisi Nurangsih S. Hasan bersiap meluncurkan empat karya terbaru yang merekam kegelisahan tentang pendidikan, moral, kehidupan sosial, hingga identitas masyarakat Timur.
Empat karya itu mengusung tema berbeda, tetapi bertemu pada satu pertanyaan besar bagaimana manusia bertahan, memilih, dan menjaga nilai di tengah perubahan zaman yang kian cepat.
Salah satu karya yang menjadi perhatian ialah Pendidikan Karakter VS Konten: “Pertarungan Moral di Tengah Dunia yang Haus Viral”. Buku ini ditulis bersama Ketua Yayasan UNUTARA Asmar Bani dan Wakil Rektor II UNUTARA Saleh Alhadad.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Buku tersebut menyoroti perubahan ruang digital yang tidak hanya memengaruhi cara generasi muda berkomunikasi, tetapi juga cara mereka membentuk identitas dan menentukan ukuran keberhasilan. Di tengah budaya viral dan pencarian popularitas, pendidikan karakter menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
“Ketika dunia semakin haus viralitas, karakter, etika, empati, dan tanggung jawab tidak boleh ikut tersisih,” menjadi salah satu gagasan penting yang ingin dibawa melalui karya tersebut.
Karya lainnya, Timur dalam Hikayat, membawa pembaca masuk ke cerita dan pengalaman masyarakat Timur. Buku ini tidak menempatkan Timur semata sebagai wilayah geografis, melainkan sebagai ruang yang menyimpan sejarah, ingatan, budaya, identitas, dan kisah yang selama ini belum selalu mendapat ruang dalam narasi besar Indonesia.
Melalui karya tersebut, Nurangsih berupaya menjadikan cerita-cerita dari Timur sebagai bagian dari percakapan yang lebih luas tentang Indonesia.
Sementara Diam-Diam Hancur, Diam-Diam Bertahan bergerak ke wilayah yang lebih personal. Buku ini merekam sisi manusia yang kerap tidak terlihat luka yang tidak selalu disampaikan, perjuangan yang tidak selalu diketahui, serta kemampuan seseorang untuk tetap bertahan ketika hidup berjalan jauh dari harapan.
Adapun karya keempat masih menjadi rahasia. Nurangsih belum mengungkap judul maupun detailnya kepada publik. Karya tersebut sengaja disimpan sebagai kejutan dalam agenda peluncuran.
Bagi Nurangsih, keempat karya itu tidak berhenti sebagai kumpulan tulisan. Ia ingin buku-buku tersebut menjadi ruang untuk membaca kembali kehidupan, membuka percakapan, sekaligus mengajak pembaca melakukan refleksi.
Ia berharap Timur dalam Hikayat dapat menghadirkan perspektif baru mengenai Timur sekaligus menjadi ruang untuk merawat ingatan, identitas, dan cerita masyarakat yang selama ini belum banyak terdengar.
Sedangkan melalui Diam-Diam Hancur, Diam-Diam Bertahan, Nurangsih ingin pembaca menemukan makna dari setiap proses kehidupan dan memahami bahwa setiap orang memiliki perjuangan yang mungkin tidak terlihat dari luar.
Adapun Pendidikan Karakter VS Konten diharapkan menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi tidak semestinya membuat manusia kehilangan karakter, etika, empati, dan tanggung jawab.
“Saya berharap buku-buku ini tidak berhenti sebagai karya yang dibaca, tetapi menjadi ruang untuk berpikir, berdialog, dan menemukan makna. Timur harus memiliki cerita, mereka yang diam-diam berjuang harus memiliki suara, dan generasi muda harus tetap memiliki karakter di tengah dunia yang semakin haus viralitas,” kata Nurangsih kepada kasedata.id, Senin (7/9/2026).
Peluncuran empat karya tersebut menjadi momentum bagi Nurangsih untuk terus menghadirkan tulisan yang dekat dengan persoalan masyarakat sekaligus membaca perubahan sosial dari sudut pandang yang lebih reflektif.
Empat buku, empat cerita, dan empat kegelisahan. Namun semuanya berangkat dari keyakinan yang sama: tulisan bukan sekadar rangkaian kata, melainkan cara merekam zaman, memberi ruang bagi suara yang sunyi, dan meninggalkan jejak bagi generasi berikutnya. (*)
Penulis : Ilham
Editor : Redaksi






