Asosiasi “Liar” Koperasi di Ternate Disorot, Klaim Wakili 78 Kelurahan Tanpa Legalitas

Rabu, 8 April 2026 - 02:17 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi gambar aktifitas asosiasi yang tidak memiliki legalitas hukum yang pasti. || dok : Istimewa

Ilustrasi gambar aktifitas asosiasi yang tidak memiliki legalitas hukum yang pasti. || dok : Istimewa

Kasedata.Id Kemunculan sekelompok orang yang mengatasnamakan “Asosiasi” Koperasi Merah Putih di Kota Ternate menuai sorotan tajam. Wadah tersebut diketahui belum mengantongi legalitas resmi, namun berani mengklaim mewakili aspirasi puluhan pengurus koperasi di tingkat kelurahan.

Fakta ini memicu tanda tanya serius, terutama di tengah berbagai persoalan yang sejak awal membayangi pembentukan Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) sebagai bagian dari agenda strategis nasional.

Sekretaris Asosiasi, Fadly, saat diwawancarai media ini, Rabu (8/4/2026), mengakui bahwa sejak awal program berjalan tanpa arah pembinaan yang jelas dari Pemerintah Kota Ternate melalui Dinas Koperasi dan UKM.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Jujur saja, dari awal sampai sekarang Koperasi Merah Putih ini bermasalah. Setelah pengurus terbentuk, kami seperti dibiarkan tanpa pendampingan,” ungkap Fadly, yang juga menjabat Ketua Koperasi Kelurahan Merah Putih Kasturian, Kecamatan Ternate Tengah.

Kondisi tersebut, kata dia, mendorong inisiatif sejumlah pihak membentuk wadah bersama yang awalnya disebut “asosiasi”, kemudian diubah menjadi “garda”. Namun dalam praktiknya, istilah asosiasi tetap digunakan secara luas meski tanpa dasar hukum yang jelas memunculkan potensi tumpang tindih kelembagaan.

Fadly secara terbuka mengakui bahwa wadah tersebut hingga kini belum berbadan hukum.

“Memang sampai saat ini belum ada badan hukum. Kami masih dalam proses pengurusan legalitas,” ujarnya.

Baca Juga :  Pasca Didemo Warga, KATAM Maluku Utara Turun Langsung ke Harita Nickel

Ia menjelaskan, keterbatasan biaya menjadi kendala utama dalam pengurusan administrasi. Meski demikian, pihaknya tetap membangun wadah tersebut sebagai ruang konsolidasi pengurus koperasi di tingkat kelurahan.

“Secara administrasi memang belum ada. Kami sementara urus, tapi kondisi teman-teman di bawah juga terbatas,” tambahnya.

Lebih jauh, Fadly menyoroti minimnya dukungan dari Pemerintah Kota Ternate, khususnya dalam pembangunan gerai koperasi. Padahal, menurutnya, pembangunan gerai seharusnya dapat memanfaatkan lahan aset pemerintah, baik milik daerah maupun negara.

Namun ia mengklaim, pembangunan gerai justru berjalan melalui inisiatif asosiasi bersama pihak TNI.

“Tergantung kepala daerahnya. Contoh kecil saja, apakah ada peran dari pemerintah kota? Kalau bukan kami (asosiasi), tidak jalan ini dengan TNI. Pembangunan gerai di Kota Ternate juga belum bergerak. Ini fakta,” tegasnya.

Fadly juga mengungkapkan bahwa penggunaan istilah “asosiasi” tetap dipakai secara informal, meski sempat mendapat penolakan dari notaris karena berpotensi berbenturan dengan entitas koperasi lain.
Di tengah status yang belum jelas, kelompok ini tetap aktif menghimpun aspirasi dari pengurus koperasi di 78 kelurahan.

Mereka menilai pemerintah daerah, khususnya Dinas Koperasi, belum maksimal dalam mengawal program tersebut.
Padahal, Koperasi Merah Putih digadang-gadang menjadi instrumen penguatan ekonomi masyarakat. Namun realitas di lapangan menunjukkan lemahnya koordinasi dan minimnya pendampingan.

Baca Juga :  Perkelahian Berdarah di Ternate Selatan Berujung Damai, Restorasi Sosial 

“Kami bukan mau melawan pemerintah. Tapi kalau tidak ada wadah, aspirasi kami tidak pernah didengar,” kata Fadly.

Terkait Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2025 di Kelurahan Kasturian, Fadly menegaskan bahwa RAT baru dapat dilakukan jika usaha koperasi telah berjalan.

“Sekarang saya tanya, operasional sudah ada belum? Uangnya dari mana? Pemerintah kota kasih? Di Kasturian awalnya 100 anggota, tapi sebagian sudah menarik berkas. Sekarang tersisa sekitar 90 anggota,” jelasnya.

Situasi ini memunculkan kekhawatiran akan potensi konflik dan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Penggunaan istilah “asosiasi” tanpa legitimasi hukum dinilai berisiko melahirkan klaim sepihak atas representasi kelompok.

Sementara itu, upaya konfirmasi kepada Ketua Asosiasi yang diketahui dijabat Ketua KKMP Tabona hingga berita ini diturunkan belum mendapat respons.

Diketahui, dalam program KDKMP ada Peraturan Menteri Koperasi dan UKM yang mengatur tentang penyelenggaraan RAT, yang menyebutkan bahwa RAT tetap harus dilaksanakan minimal satu kali dalam satu tahun buku, termasuk untuk koperasi yang masih dalam tahap awal atau belum menjalankan usaha.

Selain itu, ada petunjuk teknis pembinaan koperasi desa/kelurahan, yang menegaskan bahwa RAT awal berfungsi untuk menetapkan program kerja, pengesahan keanggotaan, serta rencana usaha, bukan semata laporan keuntungan. (*)

Penulis : Sukarsi Muhdar

Editor : Redaksi

Berita Terkait

APH Didesak Telusuri Aliran Dana dan Aset Owner-Leader Zahra Berkah
Investasi Zahra Berkah Diusut Polres Ternate, Owner Jadi Tersangka
Kabau Pante Siaga Banjir Rob, 600 Meter Permukiman Ditimbun
Pemkab Taliabu Perkuat SPM Pendidikan Berbasis Data
Kemarau Panjang, Pemkot Ternate Gelar Salat Istisqa
Dari Program Pempus, Ternate Raih Bantuan 200 Unit Rumah
Ratusan Korban Investasi Geruduk Polres Ternate, Kerugian Ditaksir Puluhan Miliar
Pemda Sula Didesak Segera Tuntaskan Pemekaran Dua Desa

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 22:34 WIT

APH Didesak Telusuri Aliran Dana dan Aset Owner-Leader Zahra Berkah

Sabtu, 19 September 2026 - 21:43 WIT

Investasi Zahra Berkah Diusut Polres Ternate, Owner Jadi Tersangka

Jumat, 18 September 2026 - 20:47 WIT

Kabau Pante Siaga Banjir Rob, 600 Meter Permukiman Ditimbun

Jumat, 18 September 2026 - 20:29 WIT

Pemkab Taliabu Perkuat SPM Pendidikan Berbasis Data

Jumat, 18 September 2026 - 12:16 WIT

Dari Program Pempus, Ternate Raih Bantuan 200 Unit Rumah

Berita Terbaru

Olahraga

PBFI Ternate Kembali Aktif, Faizal Hud Dipercaya Jadi Ketua

Sabtu, 19 Sep 2026 - 20:44 WIT

Dikbud Kabupaten Pulau Taliabu bersama Badan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Maluku Utara saat menggelar pendampingan perencanaan dan penganggaran terkait SPM bidang pendidikan tahun 2026 [ dok : karno/kasedata]

Daerah

Pemkab Taliabu Perkuat SPM Pendidikan Berbasis Data

Jumat, 18 Sep 2026 - 20:29 WIT