Kasedata.id – Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun 2026 bagi peserta didik baru jenjang SMA, SMK, dan SLB di Provinsi Maluku Utara berakhir dengan hasil yang membanggakan. Digelar serentak pada 7–11 Juli 2026, seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib, aman, edukatif, dan mendapat apresiasi luas dari peserta didik maupun orang tua.
Keberhasilan ini menjadi bukti komitmen Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi Maluku Utara dalam menghadirkan MPLS yang ramah anak, humanis, bebas dari praktik perundungan, kekerasan, maupun bentuk perpeloncoan yang selama ini menjadi sorotan publik.
MPLS merupakan gerbang awal bagi peserta didik baru untuk mengenal lingkungan sekolah, budaya belajar, tenaga pendidik, hingga nilai-nilai karakter yang menjadi fondasi pendidikan. Seluruh pelaksanaan mengacu pada petunjuk teknis Kementerian Pendidikan sehingga setiap sekolah menjalankan kegiatan secara terarah, aman, dan berorientasi pada pembentukan karakter.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara, Abubakar Abdullah, menyatakan pelaksanaan MPLS tahun ini berjalan sangat baik berdasarkan laporan kepala sekolah, Cabang Dinas Pendidikan di kabupaten/kota, serta hasil pemantauan langsung yang dilakukan Dikbud selama kegiatan berlangsung.
“Berdasarkan laporan yang kami terima dan hasil pemantauan di lapangan, MPLS 2026 berjalan dengan sangat baik. Seluruh kegiatan berlangsung tertib, menyenangkan, ramah anak, dan benar-benar memanusiakan peserta didik. Ini menjadi langkah awal yang positif dalam membangun budaya belajar yang sehat dan berkualitas di setiap sekolah,” ujar Abubakar, Minggu (12/7/2026).
Ia memberikan apresiasi kepada seluruh kepala sekolah, guru, panitia, tenaga kependidikan, serta seluruh warga sekolah yang telah menyukseskan MPLS secara edukatif, humanis, dan penuh tanggung jawab.
Tak hanya menjalankan materi wajib sesuai petunjuk teknis, sejumlah sekolah juga menghadirkan berbagai inovasi yang memperkaya pengalaman peserta didik baru.
Di SMA Negeri 1 Halmahera Utara, Tobelo, misalnya, ratusan siswa membubuhkan tanda tangan pada spanduk deklarasi komitmen mewujudkan sekolah yang aman, nyaman, inklusif, serta bebas dari perundungan dan kekerasan.
Sementara di SMA Negeri 1 Ternate, sekolah menerapkan Experience Counseling Psychology (ECP) sebagai pendekatan awal untuk memetakan kondisi psikologis, karakter, minat, dan kebutuhan peserta didik. Berbagai sekolah lainnya juga menggelar pemeriksaan kesehatan gratis, pengenalan layanan bimbingan dan konseling, kegiatan literasi, penguatan karakter, permainan edukatif, hingga aktivitas kolaboratif yang mempererat hubungan antarsiswa.
Menurutnya, berbagai inovasi tersebut menjadi bukti bahwa MPLS kini bukan lagi sekadar ajang mengenalkan aturan sekolah, melainkan ruang membangun kepercayaan diri, persahabatan, karakter, dan semangat berprestasi sejak hari pertama.
“Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan menyenangkan. Di sanalah kepercayaan diri, persahabatan, dan motivasi belajar tumbuh. Ketika peserta didik merasa diterima, mereka akan lebih siap berkembang dan meraih prestasi,” tegasnya.
Ia berharap semangat positif yang terbangun selama MPLS tidak berhenti pada pekan pengenalan saja, tetapi terus menjadi budaya di seluruh satuan pendidikan.
“Tujuan kita bukan hanya menciptakan sekolah yang unggul secara akademik, tetapi juga lingkungan belajar yang aman, inklusif, nyaman, dan mampu melahirkan generasi Maluku Utara yang berkarakter, berprestasi, serta siap menghadapi tantangan masa depan,” pungkasnya. (*)
Penulis : Ilham
Editor : Redaksi





![Anggota Ekco PSSI Periode 2023-2027 Mayjen (Purn) Rudi Yulianto yang ditunjuk menjabat Plt Ketua PSSI Maluku Utara [Foto : istimewa]](https://kasedata.id/wp-content/uploads/2026/07/IMG_20260710_200453-225x129.jpg)

