RSUD Chasan Boesoiri Mulai Tangani Kasus Kompleks Pembuluh Darah Otak

Kamis, 5 November 2026 - 14:02 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur RSUD dr. H. Chasan Boesoiri, dr. Rosita Alkatiri mendampingi tim ahli dari RSPON melakukan proctoring atau pendampingan tindakan coiling aneurisma perdana di Maluku Utara. || Foto : Kasedata.id

Direktur RSUD dr. H. Chasan Boesoiri, dr. Rosita Alkatiri mendampingi tim ahli dari RSPON melakukan proctoring atau pendampingan tindakan coiling aneurisma perdana di Maluku Utara. || Foto : Kasedata.id

Kasedata.id – Ketergantungan masyarakat Maluku Utara terhadap rumah sakit di luar daerah untuk penanganan penyakit pembuluh darah otak mulai dipangkas. RSUD dr. H. Chasan Boesoiri Ternate berhasil melakukan tindakan intervensi Coiling Aneurisma untuk pertama kalinya di Maluku Utara.

Keberhasilan ini menjadi tonggak baru pengembangan layanan kesehatan rujukan di Maluku Utara. Melalui kolaborasi dengan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta, RSUD Chasan Boesoiri mulai memperluas kemampuan penanganan kasus neurologis kompleks yang selama ini membutuhkan rujukan ke rumah sakit di luar provinsi.

Tindakan tersebut merupakan bagian dari program jejaring pengampuan layanan stroke nasional yang diinisiasi Kementerian Kesehatan RI. Program ini dirancang untuk memperkuat kapasitas rumah sakit daerah melalui transfer pengetahuan, teknologi, serta pendampingan langsung dari rumah sakit rujukan nasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara, dr. Julys Giscard Kroon, Kamis (5/11/2026), menjelaskan bahwa dalam skema pengampuan tersebut, RSUD Chasan Boesoiri mendapat pendampingan RSPON untuk layanan stroke. Sementara pengembangan layanan jantung dilakukan melalui pengampuan RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta.

“Hari ini, tim ahli dari RSPON melakukan proctoring atau pendampingan tindakan coiling aneurisma perdana di Maluku Utara. Kami sangat mengapresiasi program ini karena manfaatnya luar biasa bagi masyarakat. Selama ini, kasus kelainan pembuluh darah otak seperti ini harus dirujuk ke luar daerah. Mulai hari ini, penanganannya sudah bisa dilakukan di sini,” ungkap Julys.

Lebih dari sekadar keberhasilan tindakan medis, capaian tersebut juga menjadi modal penting bagi RSUD Chasan Boesoiri untuk meningkatkan klasifikasi layanan stroke dari tingkat Utama menuju Paripurna.

Baca Juga :  IDI Malut Dikukuhkan, 764 Dokter Perkuat Layanan Kesehatan di Daerah

Sejumlah persyaratan pendukung telah dipenuhi, mulai dari ketersediaan fasilitas dan peralatan medis berteknologi tinggi, termasuk Cathlab, hingga kesiapan tenaga medis multidisiplin yang melibatkan dokter spesialis serta konsultan dan subspesialis.

Dalam jejaring pengampuan nasional, RSUD Chasan Boesoiri juga memiliki posisi strategis. Selain menjadi rumah sakit yang menerima pengampuan dari RSPON, rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Maluku Utara ini diproyeksikan menjadi pusat pembinaan layanan kesehatan bagi 10 RSUD kabupaten/kota di wilayah Maluku Utara.

Direktur RSUD dr. H. Chasan Boesoiri, dr. Rosita Alkatiri, mengatakan RSPON mengirimkan enam tenaga ahli untuk mendampingi dokter spesialis bedah saraf dan dokter spesialis saraf di rumah sakit tersebut.

Menurutnya, pendampingan itu bukan hanya untuk menyukseskan tindakan perdana, tetapi juga memastikan tenaga medis lokal mampu menguasai teknologi dan melakukan tindakan serupa secara mandiri pada masa mendatang.

“Pendampingan ini bertujuan agar ke depan tenaga medis kami dapat melakukan intervensi secara mandiri. Jika ada kasus pembuluh darah otak yang tersumbat atau pecah, tidak perlu lagi ada rujukan ke luar Maluku Utara. Kami juga tengah mengajukan proses perizinan ke BPJS Kesehatan agar layanan canggih ini dapat sepenuhnya dibiayai dan diakses oleh masyarakat peserta jaminan kesehatan,” jelas Rosita.

Dari sisi medis, metode Coiling Aneurisma merupakan prosedur intervensi minimal invasif untuk menangani aneurisma atau pelebaran abnormal pada pembuluh darah otak. Berbeda dengan operasi terbuka konvensional melalui metode clipping yang membutuhkan pembukaan tulang tengkorak, prosedur coiling dilakukan dengan memasukkan kateter melalui pembuluh darah di area paha atau tangan.

Melalui kateter tersebut, dokter memasukkan alat khusus untuk menutup kantong aneurisma sehingga aliran darah tidak lagi memberikan tekanan langsung pada bagian pembuluh darah yang mengalami pelebaran. Teknik ini memungkinkan tindakan dilakukan tanpa membuka tengkorak, dengan pendekatan yang lebih minimal invasif.

Baca Juga :  Kasus Rudapaksa Siswi SMP Jadi Atensi IMM Halsel

Perwakilan tim ahli RSPON, dr. Riki, menjelaskan bahwa tindakan perdana di Ternate tersebut menangani pasien laki-laki berusia 54 tahun dengan kasus aneurisma yang telah mengalami pecah dan sebelumnya mengeluhkan nyeri kepala hebat.

“Kasus kompleks yang kita tangani hari ini adalah pecah pembuluh darah di otak. Solusi yang diberikan melalui tindakan coiling yang dikombinasikan dengan pemasangan stent untuk menstabilkan pembuluh darah. Alhamdulillah, tindakan berjalan lancar dan perawatan selanjutnya akan dipantau secara berkala di RSUD,” jelasnya.

Ia juga mengapresiasi kesiapan jajaran dokter RSUD Chasan Boesoiri dalam mendukung pelaksanaan tindakan medis tersebut. Kolaborasi antara tenaga ahli RSPON dan tim medis lokal dinilai menjadi bagian penting dalam meningkatkan kemampuan rumah sakit daerah menangani kasus berisiko tinggi.

Keberhasilan ini sekaligus menjadi momentum bagi Pemerintah Provinsi Maluku Utara untuk mempercepat pemerataan layanan kesehatan berkualitas. Sebab, tantangan pelayanan kesehatan di wilayah kepulauan bukan hanya terletak pada ketersediaan tenaga medis dan fasilitas, tetapi juga jarak serta biaya yang harus ditanggung masyarakat ketika membutuhkan penanganan spesialis.

Dengan penguatan layanan stroke dan penguasaan teknologi intervensi medis, RSUD Chasan Boesoiri diharapkan mampu memangkas kebutuhan rujukan ke luar daerah, mempercepat penanganan pasien, serta menekan risiko kematian dan kecacatan akibat stroke.

Kini, keberhasilan tersebut menjadi pijakan awal bagi Maluku Utara untuk membangun layanan kesehatan rujukan yang lebih mandiri, sehingga masyarakat tidak lagi harus selalu bergantung pada fasilitas kesehatan di luar provinsi untuk mendapatkan penanganan medis berteknologi tinggi. (*)

Penulis : Ilham

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Pemprov Malut Matangkan Pesparani II, Sarbin Tekankan Kualitas Persiapan dan Toleransi
PAD Lampaui Target, Pemda Sula Evaluasi Capaian Pajak-Retribusi 
Apel Siaga Bencana, Kapolres Ternate Tekankan Sinergi Lintas Sektoral 
Potensi Banjir hingga Pohon Tumbang, Ternate Gelar Apel Siaga Bencana
Dari Ngade hingga Halut, IMM Apresiasi BPJN Malut Tangani Infrastruktur
Uji Kompetensi Tuntas, 7 Pejabat Pemprov Malut Menanti Keputusan Gubernur
Lewat KREASI, Pemprov Malut Tingkatkan Mutu Pendidikan Dasar
Kajian Risiko Bencana Mulai Disusun di Kepulauan Sula

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 14:02 WIT

RSUD Chasan Boesoiri Mulai Tangani Kasus Kompleks Pembuluh Darah Otak

Kamis, 5 November 2026 - 13:52 WIT

Pemprov Malut Matangkan Pesparani II, Sarbin Tekankan Kualitas Persiapan dan Toleransi

Rabu, 4 November 2026 - 21:08 WIT

PAD Lampaui Target, Pemda Sula Evaluasi Capaian Pajak-Retribusi 

Rabu, 4 November 2026 - 18:33 WIT

Apel Siaga Bencana, Kapolres Ternate Tekankan Sinergi Lintas Sektoral 

Rabu, 4 November 2026 - 18:08 WIT

Potensi Banjir hingga Pohon Tumbang, Ternate Gelar Apel Siaga Bencana

Berita Terbaru