Pemprov Malut Dorong Penguatan Ekonomi Biru untuk Optimalkan Potensi Laut

Selasa, 18 Agustus 2026 - 21:28 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Maluku Utara, Drs. Samsuddin Abdul Kadir. || dok : Ilham/Kasedata

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Maluku Utara, Drs. Samsuddin Abdul Kadir. || dok : Ilham/Kasedata

Kasedata.id – Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Maluku Utara, Drs. Samsuddin Abdul Kadir menegaskan pentingnya penguatan sektor kelautan dan perikanan melalui konsep Ekonomi Biru (Blue Economy) sebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi daerah berbasis potensi laut.

Pernyataan tersebut disampaikan saat membuka kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Bank Indonesia (BI) Perwakilan Maluku Utara, Selasa (18/8/2026), yang membahas strategi pengembangan Ekonomi Biru dan optimalisasi sektor kelautan Maluku Utara.

Menurutnya, Maluku Utara sebagai provinsi kepulauan memiliki kekayaan laut yang luar biasa. Laut tidak hanya menjadi pemisah antarwilayah, tetapi merupakan ruang kehidupan, sumber pangan, jalur konektivitas, serta salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi masa depan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, besarnya potensi perikanan tangkap dan kekayaan ekosistem pesisir belum sepenuhnya memberikan nilai ekonomi maksimal bagi masyarakat. Masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu dibenahi, mulai dari keterbatasan infrastruktur pelabuhan, fasilitas rantai dingin (cold chain), konektivitas antarwilayah, akses bahan bakar, teknologi, hingga persoalan hilirisasi dan pemasaran.

Baca Juga :  KNPI Malut Tunjuk Hamdan Halil sebagai Caretaker KNPI Halteng

Samsuddin menyampaikan, pembangunan sektor perikanan tidak dapat dilakukan secara parsial, tetapi harus melalui pendekatan terintegrasi yang menghubungkan seluruh rantai ekonomi, mulai dari nelayan, produksi, pengolahan, hingga pemasaran.

Ia menjelaskan, pengembangan Ekonomi Biru membutuhkan penguatan basis data dan tata kelola perikanan agar kebijakan yang diambil benar-benar sesuai dengan kondisi lapangan. Data mengenai potensi sumber daya ikan, pelaku usaha, wilayah tangkap, serta rantai pasok harus menjadi dasar perencanaan bersama antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, BPS, kementerian/lembaga, perguruan tinggi, dan masyarakat.

Selain itu, peningkatan produktivitas nelayan juga menjadi perhatian melalui modernisasi sarana tangkap, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, kemudahan akses BBM, pembiayaan, asuransi, serta kepastian ruang operasional.

Dalam aspek hilirisasi, Sekda menilai Maluku Utara perlu memperkuat industri pengolahan hasil laut, meningkatkan peran UMKM dan koperasi nelayan, serta membuka peluang investasi agar produk perikanan lokal memiliki daya saing hingga pasar nasional maupun internasional.

Ia juga menyoroti pentingnya pembangunan infrastruktur pendukung di darat, seperti fasilitas cold storage, pabrik es, dan sarana pengolahan. Menurutnya, keterbatasan fasilitas tersebut menyebabkan sebagian hasil tangkapan dari perairan Maluku Utara harus dibawa keluar daerah, seperti Manado dan Bitung, yang memiliki rantai pasok industri lebih siap.

Baca Juga :  Rakorda P3A 2026 Digelar, Pemprov Malut Perkuat Komitmen Perlindungan Perempuan dan Anak

Terkait regulasi wilayah tangkap, Samsuddin menjelaskan perlunya pemahaman masyarakat mengenai batas operasional kapal. Kapal berukuran di bawah 30 GT memiliki wilayah operasi di bawah 12 mil laut, sementara kawasan di atas 12 mil merupakan wilayah laut bersama yang diatur oleh negara.

Ia menambahkan, pengembangan armada nelayan juga harus disesuaikan dengan karakteristik masyarakat pesisir Maluku Utara. Bantuan sarana tangkap harus mempertimbangkan pola aktivitas nelayan, efisiensi operasional, serta aspek keselamatan ketika berada di laut.

“Laut Maluku Utara harus ditempatkan sebagai halaman depan perekonomian daerah. Pengelolaan laut yang baik akan menjadi sumber pangan, energi, inovasi, lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Samsuddin.

Pemerintah Provinsi Maluku Utara, lanjutnya, berkomitmen memperkuat kolaborasi bersama Bank Indonesia, pemerintah pusat, pemerintah kabupaten/kota, akademisi, dan dunia usaha dalam menyusun roadmap pengembangan Ekonomi Biru yang berkelanjutan. (*)

Penulis : Ilham

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Terjebak Karhutla di Gamalama, Dua Pendaki Dievakuasi Tim SAR
10 Hektare Lahan Moya Ternate Terbakar, Api Ancam Kebun Warga
Pemdes Kawasi Pimpin Penanganan Karhutla Bersama Warga dan Tim Gabungan
Pekerjaan Jalan Paving Kayu Merah Ternate Tinggal Finishing
Tonny S Pontoh, Dari Ajudan Gubernur ke Medan Bencana Ternate
Rampung 100 Persen, Akses Saketa-Dehepodo Kembali Lancar
Ruang Fiskal Ternate 2027 Diproyeksi Lebih Longgar, Utang Jadi Perhatian
Tonny Dapat Tugas Baru, Ferry Ditunjuk Plt Kadis Perkimtan Ternate

Berita Terkait

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 18:39 WIT

Terjebak Karhutla di Gamalama, Dua Pendaki Dievakuasi Tim SAR

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 18:19 WIT

10 Hektare Lahan Moya Ternate Terbakar, Api Ancam Kebun Warga

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 16:48 WIT

Pemdes Kawasi Pimpin Penanganan Karhutla Bersama Warga dan Tim Gabungan

Jumat, 2 Oktober 2026 - 20:06 WIT

Pekerjaan Jalan Paving Kayu Merah Ternate Tinggal Finishing

Jumat, 2 Oktober 2026 - 15:03 WIT

Tonny S Pontoh, Dari Ajudan Gubernur ke Medan Bencana Ternate

Berita Terbaru

Peristiwa

Terjebak Karhutla di Gamalama, Dua Pendaki Dievakuasi Tim SAR

Sabtu, 3 Okt 2026 - 18:39 WIT

Kebakaran lahan yang melanda kawasan Taman Love, Kelurahan Moya

Peristiwa

10 Hektare Lahan Moya Ternate Terbakar, Api Ancam Kebun Warga

Sabtu, 3 Okt 2026 - 18:19 WIT