Menatap Layar atau Buku : Krisis Fokus Pelajar di Era Digital

Rabu, 28 Oktober 2026 - 16:08 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Nasir M. Salamah

Shakti Gawain, dalam bukunya Visualisasi Kreatif : Mewujudkan Impian dengan Kekuatan Imajinasi (2014:23), menjelaskan visualisasi kreatif sebagai teknik memanfaatkan imajinasi untuk mewujudkan keinginan dalam hidup. Gagasan ini menegaskan bahwa imajinasi bukan sekadar kemampuan membayangkan sesuatu, melainkan bagian penting dari proses membangun tujuan, mengembangkan kreativitas, dan melatih konsentrasi.

Namun, di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, muncul sebuah pertanyaan mendasar: apakah pelajar hari ini masih memiliki ruang yang cukup untuk berimajinasi, atau justru semakin terbiasa menerima segala sesuatu secara instan melalui layar gawai ?.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pertanyaan ini patut direnungkan. Ketika layar semakin mendominasi kehidupan pelajar, buku perlahan kehilangan tempatnya. Aktivitas membaca yang membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan konsentrasi panjang mulai bersaing dengan konten digital yang menawarkan hiburan cepat, visual menarik, serta rangsangan tanpa henti. Akibatnya, persoalan yang dihadapi pelajar bukan semata-mata berkurangnya minat baca, melainkan juga melemahnya kemampuan mengelola perhatian.

Di era globalisasi digital, gawai telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam dunia pendidikan. Kehadirannya membawa banyak manfaat, mulai dari mempermudah akses informasi, membantu penyelesaian tugas sekolah, menyediakan materi pembelajaran interaktif, hingga membuka kesempatan bagi pelajar untuk mengenal perkembangan ilmu pengetahuan secara lebih luas.

Karena itu, menyalahkan teknologi secara keseluruhan bukanlah langkah yang tepat. Gawai bukan musuh pendidikan. Jika digunakan secara bijak, teknologi justru dapat menjadi sarana yang efektif untuk memperluas wawasan, mengembangkan kreativitas, dan mendukung proses belajar.

Persoalannya terletak pada bagaimana teknologi digunakan dan sejauh mana pelajar mampu mengendalikan diri di tengah berbagai godaan digital.

Tidak sedikit pelajar yang awalnya membuka gawai untuk mencari bahan tugas, tetapi kemudian teralihkan oleh permainan, video pendek, atau media sosial. Niat belajar yang semula terarah perlahan kehilangan fokus karena perhatian terus berpindah dari satu konten ke konten lainnya. Waktu yang seharusnya digunakan untuk membaca, mengerjakan tugas, atau beristirahat justru tersita oleh aktivitas digital yang tidak selalu memberikan manfaat.

Dampaknya tidak bisa dianggap sepele. Konsentrasi belajar dapat terganggu, tugas sekolah tertunda, waktu tidur berkurang, dan kebiasaan membaca semakin terpinggirkan. Jika berlangsung terus-menerus, pola ini berpotensi memengaruhi kualitas proses belajar serta kemampuan pelajar dalam memahami informasi secara mendalam.

Di sinilah kritik terhadap penggunaan gawai yang tidak terkendali perlu ditegaskan. Kita sedang menghadapi tantangan pendidikan yang lebih luas daripada sekadar persoalan kepemilikan telepon pintar. Tantangan tersebut adalah krisis perhatian, ketika pelajar semakin mudah terdistraksi dan semakin sulit bertahan pada satu aktivitas yang membutuhkan kesungguhan berpikir.

Baca Juga :  Membuka Babak Baru, Menjadi Universitas Terkemuka (Catatan Pelantikan Rektor Universitas Muhammadiyah Maluku Utara)

Konten digital yang bergerak cepat memang memberikan kemudahan dalam memperoleh informasi. Namun, kemudahan itu tidak otomatis menjamin pemahaman. Mengetahui banyak hal dalam waktu singkat berbeda dengan memahami suatu persoalan secara mendalam. Melihat ringkasan tidak selalu sama dengan membaca keseluruhan gagasan, sebagaimana menonton penjelasan singkat tidak selalu menggantikan proses berpikir kritis yang tumbuh melalui kegiatan membaca.

Buku menawarkan pengalaman belajar yang berbeda. Ketika membaca, pelajar dituntut mengikuti alur gagasan, memahami hubungan antarkalimat, mengolah informasi, serta membangun gambaran dalam pikirannya sendiri. Proses tersebut memberikan ruang bagi imajinasi untuk berkembang secara aktif, bukan sekadar menerima rangsangan visual yang telah disajikan oleh orang lain.

Jika dikaitkan dengan pemikiran Shakti Gawain, membaca dapat menjadi salah satu sarana untuk melatih imajinasi dan kesadaran berpikir. Pelajar tidak hanya menerima informasi, tetapi juga belajar membangun pemahaman, membayangkan kemungkinan, dan merumuskan gagasan secara mandiri.

Ketika kebiasaan membaca semakin melemah, kesempatan untuk melatih kemampuan tersebut juga berisiko berkurang. Inilah yang semestinya menjadi perhatian bersama. Pendidikan tidak boleh berhenti pada kemampuan mengakses informasi, tetapi harus memastikan pelajar mampu mengolah, menilai, dan menggunakan informasi itu secara bertanggung jawab.

Kritik tanpa solusi hanya akan menjadi keluhan. Karena itu, krisis fokus pelajar di era digital harus dijawab melalui langkah nyata, terukur, dan melibatkan semua pihak.

Pertama, pelajar perlu membangun disiplin digital. Penggunaan gawai harus memiliki tujuan yang jelas, terutama ketika digunakan untuk belajar. Pelajar dapat menetapkan jadwal harian yang seimbang antara belajar, membaca, hiburan, beristirahat, dan berinteraksi dengan lingkungan sosial. Ketika mengerjakan tugas, notifikasi yang tidak diperlukan sebaiknya dinonaktifkan dan aplikasi hiburan disisihkan sementara agar konsentrasi tidak terus terpecah.

Kedua, sekolah perlu menghidupkan kembali budaya membaca secara konsisten. Gerakan literasi tidak cukup hanya dengan menyediakan buku atau meminta siswa membaca dalam kegiatan seremonial. Sekolah harus menghadirkan program yang membangun kebiasaan, seperti membaca selama 15–20 menit sebelum pembelajaran, diskusi buku, jurnal bacaan, serta tugas yang mendorong siswa menyampaikan kembali gagasan dengan bahasa mereka sendiri.

Perpustakaan sekolah juga perlu dikembangkan menjadi ruang yang nyaman, menarik, dan relevan dengan minat pelajar. Buku cetak dapat berjalan berdampingan dengan sumber digital yang kredibel. Dengan demikian, tujuan pendidikan bukan memaksa siswa memilih antara buku dan teknologi, melainkan membiasakan mereka menggunakan keduanya sesuai kebutuhan.

Ketiga, guru perlu merancang pembelajaran yang tidak hanya menuntut siswa mencari jawaban cepat di internet, tetapi juga mendorong mereka berpikir kritis, berdiskusi, membaca sumber secara utuh, dan menyusun kesimpulan sendiri. Penggunaan teknologi harus diarahkan untuk memperdalam pemahaman, bukan sekadar membuat pembelajaran terlihat modern.

Baca Juga :  RINDU GEMURUH STADION GELORA KIE RAHA

Keempat, orang tua harus mengambil peran melalui pendampingan, bukan hanya larangan. Pembatasan waktu layar perlu disertai kesepakatan yang jelas, keteladanan penggunaan gawai, serta penyediaan waktu khusus untuk membaca bersama anak. Tidak adil jika anak diminta mengurangi penggunaan gawai sementara orang dewasa di sekitarnya terus-menerus terpaku pada layar.

Kelima, pemerintah dan pemangku kepentingan pendidikan perlu memperkuat kebijakan literasi digital yang menekankan keseimbangan antara kecakapan teknologi, kesehatan kebiasaan digital, dan kemampuan berpikir kritis. Program literasi seharusnya tidak berhenti pada kemampuan mengoperasikan perangkat, tetapi juga membekali pelajar dengan keterampilan mengelola perhatian, memeriksa kebenaran informasi, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Langkah-langkah tersebut perlu dijalankan secara berkelanjutan dan dievaluasi melalui perubahan kebiasaan nyata, seperti meningkatnya keterlibatan siswa dalam kegiatan membaca, kualitas diskusi pembelajaran, serta kemampuan menyelesaikan tugas secara mandiri. Dengan begitu, gerakan literasi tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjadi bagian dari budaya pendidikan.

Pada akhirnya, pelajar tidak harus menjauh dari teknologi untuk menjadi cerdas. Mereka justru perlu dibekali kemampuan mengendalikan teknologi agar tidak kehilangan kendali atas waktu, perhatian, dan tujuan belajarnya sendiri. Kemajuan digital seharusnya memperluas kemampuan manusia untuk berpikir, bukan membuat manusia semakin bergantung pada rangsangan instan.

Batas antara belajar dan bermain tidak ditentukan oleh gawai, melainkan oleh kesadaran, disiplin, dan lingkungan yang membentuk kebiasaan penggunanya. Pelajar yang bijak bukanlah mereka yang menolak teknologi, tetapi mereka yang mampu menempatkan teknologi sebagai alat untuk mencapai tujuan, bukan sebagai pusat dari seluruh aktivitasnya.

Karena itu, mengembalikan buku ke dalam kehidupan pelajar bukan berarti memusuhi perkembangan zaman. Sebaliknya, membaca merupakan upaya memperkuat kemampuan yang justru semakin dibutuhkan di tengah banjir informasi: konsentrasi, imajinasi, ketekunan, dan pemikiran kritis.

Mari kembali membaca buku, bukan sekadar untuk menyelamatkan budaya literasi, melainkan juga untuk merebut kembali kendali atas perhatian dan pikiran kita. Luangkan waktu untuk menjauh sejenak dari layar, membuka halaman demi halaman, dan memberi ruang bagi imajinasi untuk bekerja secara sadar.

Sebab, masa depan pendidikan tidak cukup dibangun oleh generasi yang mahir menatap layar, tetapi harus ditopang oleh generasi yang mampu memahami isi bacaan, mempertajam pemikiran, dan menggunakan pengetahuan untuk menciptakan perubahan.

Jangan sampai gawai yang seharusnya menjadi jendela ilmu justru berubah menjadi penghalang bagi pelajar untuk meraih cita-cita. (*)

Penulis : Nasir M. Salamah

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Keadilan Fiskal Profetik
Menjaga Data, Merawat Kepercayaan, Menguatkan Suara Daerah
Merampas atau Memulihkan
Ko Nan, Jurnalis yang Istiqamah
Siapa Peduli Persiter Ternate ?
Persiter Sebagai Simbol Harga Diri 
Jatuh Sakit Bukan Berarti Menghalangi Mimpi Sarjanaku
Edukasi Pemanfaatan Rempah dan Barang Bekas sebagai Pengharum Ruangan Alami Bernilai Ekonomi dan Ramah Lingkungan

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 16:08 WIT

Menatap Layar atau Buku : Krisis Fokus Pelajar di Era Digital

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:18 WIT

Keadilan Fiskal Profetik

Kamis, 3 September 2026 - 21:15 WIT

Menjaga Data, Merawat Kepercayaan, Menguatkan Suara Daerah

Selasa, 1 September 2026 - 20:56 WIT

Merampas atau Memulihkan

Selasa, 11 Agustus 2026 - 20:20 WIT

Ko Nan, Jurnalis yang Istiqamah

Berita Terbaru