OMC Malut Berakhir, Sherly Apresiasi Dukungan BNPB dan Pihak Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 17:29 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos, mengunjungi Bandara Baabullah pada 10 September 2026 lalu. Lokasi tersebut menjadi salah satu posko pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). || Foto : Kasedata.id

Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos, mengunjungi Bandara Baabullah pada 10 September 2026 lalu. Lokasi tersebut menjadi salah satu posko pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). || Foto : Kasedata.id

Kasedata.id – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Maluku Utara resmi berakhir setelah BNPB memutuskan operasi tidak diperpanjang melewati 12 September 2026. Meski demikian, Pemerintah Provinsi Maluku Utara memastikan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap berjalan.

Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda menyampaikan apresiasi kepada BNPB, BMKG, BMKG Pusat, Lanud, PT Smart Cakrawala Aviation, serta seluruh unsur yang terlibat dalam pelaksanaan OMC.

Bagi Pemprov Malut, operasi tersebut merupakan bagian dari respons pemerintah menghadapi kondisi darurat asap akibat karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

OMC sendiri menjadi salah satu langkah penanganan yang diminta Gubernur Sherly sebagai bentuk respons pemerintah daerah terhadap kondisi di lapangan.

Seiring perkembangan situasi, Sherly bahkan meminta agar masa operasi dapat diperpanjang. Pertimbangannya, saat itu curah hujan belum merata di seluruh wilayah dan masih terdapat potensi pertumbuhan awan hujan.

“Saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada BNPB yang telah merespons kebutuhan Maluku Utara melalui pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca. Terima kasih juga kepada BMKG, BMKG Pusat, Lanud, PT Smart Cakrawala Aviation dan seluruh unsur yang telah bekerja bersama,” ujar Sherly, Kamis (17/9/2026).

Baca Juga :  Polres Halsel Didesak Tahan 7 Tersangka Kasus Pencabulan Anak 

OMC dilaksanakan pada 5–12 September 2026 dengan basis operasi di Bandara Sultan Babullah, Ternate. Operasi menggunakan pesawat Cessna Caravan C208 EX dengan bahan semai NaCl.

Selama pelaksanaan, tercatat sebanyak 10 sortie. Sasaran operasi ditentukan secara dinamis berdasarkan ketersediaan awan potensial di sejumlah wilayah Maluku Utara.

Dinamika tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa penanganan kondisi darurat membutuhkan koordinasi lintas lembaga sekaligus keputusan yang menyesuaikan kondisi aktual di lapangan.

“Ketika kondisi membutuhkan dukungan, kita meminta intervensi dan dukungan dari pemerintah pusat. Ketika kondisi atmosfer berubah, pelaksanaan juga harus mengikuti pertimbangan teknis. Yang terpenting adalah kita terus berupaya memberikan perlindungan terbaik bagi masyarakat,” kata Sherly.

Dalam evaluasi akhir pada 12 September, hujan masih terjadi di sejumlah wilayah. Pada saat yang sama, hotspot menunjukkan kecenderungan menurun.

Namun, evaluasi BMKG menunjukkan ketersediaan awan potensial untuk mendukung operasi lanjutan tidak lagi memadai. Atas pertimbangan teknis dan meteorologis tersebut, BNPB memutuskan OMC tidak diperpanjang.

Menurutnya lagi, permintaan perpanjangan yang disampaikan Pemprov Malut merupakan bagian dari ikhtiar pemerintah daerah untuk memanfaatkan setiap peluang penanganan selama kondisi masih memungkinkan.

Baca Juga :  Disperkim Maluku Utara Kejar Tuntas 1.200 RTLH Akhir Tahun

“Permintaan perpanjangan merupakan bagian dari ikhtiar Pemerintah Provinsi Maluku Utara untuk memastikan setiap peluang penanganan dapat dimanfaatkan ketika kondisi masih memungkinkan. Kami menghormati keputusan berdasarkan kajian teknis yang dilakukan,” ujarnya.

Meski operasi udara telah berakhir, Sherly menegaskan pekerjaan pemerintah dalam mengantisipasi karhutla belum selesai.

Pemprov Malut akan terus memperkuat pemantauan cuaca, curah hujan, hotspot dan kondisi lapangan sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi perubahan kondisi atmosfer.

Langkah tersebut menjadi penting karena kondisi cuaca dan potensi karhutla dapat berubah secara dinamis. Karena itu, koordinasi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, BMKG, BNPB, aparat dan unsur terkait tetap diperlukan.

“Berkahirnya OMC bukan berarti kewaspadaan terhadap karhutla berakhir,” tegas Gubernur

“Atas nama Pemerintah Provinsi Maluku Utara, saya menyampaikan terima kasih kepada seluruh penyelenggara dan pendukung OMC. Terima kasih BNPB, BMKG, BMKG Pusat, Lanud, PT Smart Cakrawala Aviation dan seluruh pihak yang telah bekerja bersama untuk Maluku Utara,” tutupnya. (*)

Penulis : Ilham

Editor : Redaksi

Berita Terkait

DPRD Malut Tekankan Pemerataan, Anggaran Infrastruktur 2027 Capai Rp 853 Miliar
Dikbud Malut Gandeng Polda Perkuat Karakter Siswa, Radikalisme dan Narkoba Jadi Perhatian
RSUD Chasan Boesoiri Mulai Tangani Kasus Kompleks Pembuluh Darah Otak
Pemprov Malut Matangkan Pesparani II, Sarbin Tekankan Kualitas Persiapan dan Toleransi
PAD Lampaui Target, Pemda Sula Evaluasi Capaian Pajak-Retribusi 
Apel Siaga Bencana, Kapolres Ternate Tekankan Sinergi Lintas Sektoral 
Potensi Banjir hingga Pohon Tumbang, Ternate Gelar Apel Siaga Bencana
Dari Ngade hingga Halut, IMM Apresiasi BPJN Malut Tangani Infrastruktur

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 19:17 WIT

DPRD Malut Tekankan Pemerataan, Anggaran Infrastruktur 2027 Capai Rp 853 Miliar

Kamis, 5 November 2026 - 18:34 WIT

Dikbud Malut Gandeng Polda Perkuat Karakter Siswa, Radikalisme dan Narkoba Jadi Perhatian

Kamis, 5 November 2026 - 14:02 WIT

RSUD Chasan Boesoiri Mulai Tangani Kasus Kompleks Pembuluh Darah Otak

Kamis, 5 November 2026 - 13:52 WIT

Pemprov Malut Matangkan Pesparani II, Sarbin Tekankan Kualitas Persiapan dan Toleransi

Rabu, 4 November 2026 - 21:08 WIT

PAD Lampaui Target, Pemda Sula Evaluasi Capaian Pajak-Retribusi 

Berita Terbaru