Lalayon di Persimpangan Zaman : Menjaga Warisan, Menguatkan Identitas

Jumat, 2 Februari 2024 - 16:22 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Musadat Ishak

Di tengah arus modernisasi yang semakin deras, banyak tradisi lokal perlahan memudar dari ingatan kolektif masyarakat. Salah satu yang kini berada di persimpangan zaman adalah Lalayon-sebuah warisan budaya dari Halmahera, Maluku Utara, yang sarat makna, nilai, dan identitas.

Lalayon bukan sekadar tarian. Ia adalah ekspresi budaya masyarakat Fagogoru-meliputi wilayah Weda, Patani, hingga Maba yang tumbuh dari kehidupan sosial, nilai adat, dan relasi antar manusia. Dalam praktiknya, Lalayon dikenal sebagai tari pergaulan yang kerap ditampilkan berpasangan, menyampaikan pesan cinta, keharmonisan, dan kebahagiaan dalam kehidupan bermasyarakat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lebih dari itu, Lalayon menyimpan dimensi simbolik yang dalam. Ia bukan hanya hiburan, tetapi juga media komunikasi nilai-nilai budaya, norma sosial, bahkan struktur masyarakat itu sendiri. Dalam setiap gerakannya, tercermin karakter, etika, dan pandangan hidup masyarakat Halmahera yang menjunjung tinggi kebersamaan dan keseimbangan.

Baca Juga :  2024: Perebutan “Kursi Panas” Maluku Utara

Namun, realitas hari ini menunjukkan tantangan serius. Minat generasi muda untuk mempelajari Lalayon mulai menurun. Jika dulu tarian ini hidup dalam keseharian masyarakat, kini ia lebih sering hadir dalam acara seremonial semata, hari jadi daerah, penyambutan tamu, atau festival budaya.

Pergeseran ini bukan sekadar perubahan bentuk, tetapi juga ancaman terhadap keberlanjutan makna. Padahal, Lalayon telah lama menjadi bagian penting identitas masyarakat Halmahera. Bahkan, upaya untuk menjadikannya sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) menunjukkan bahwa negara pun mengakui nilai penting tradisi ini sebagai kekayaan budaya bangsa.

Di sinilah kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan mendasar: apakah Lalayon akan tetap hidup sebagai identitas, atau sekadar menjadi artefak budaya yang dipertontonkan tanpa jiwa ?.

Pelestarian Lalayon tidak cukup hanya dengan menampilkannya di panggung. Ia harus dihidupkan kembali dalam ruang-ruang sosial masyarakat di sekolah, di keluarga, dan di komunitas. Regenerasi menjadi kunci. Tanpa transfer pengetahuan dari generasi tua ke generasi muda, Lalayon akan kehilangan akar dan maknanya.

Baca Juga :  RINDU GEMURUH STADION GELORA KIE RAHA

Lebih jauh, pendekatan pelestarian juga perlu beradaptasi dengan zaman. Digitalisasi, dokumentasi, dan integrasi dalam pendidikan formal dapat menjadi strategi penting untuk memastikan Lalayon tetap relevan. Tradisi tidak harus statis ; ia bisa berkembang tanpa kehilangan esensinya.

Lalayon adalah cermin jati diri. Ia merepresentasikan siapa kita, dari mana kita berasal, dan nilai apa yang kita pegang. Ketika Lalayon hilang, bukan hanya sebuah tarian yang lenyap, tetapi juga sebagian identitas kita sebagai masyarakat Halmahera.

Menjaga Lalayon berarti menjaga ingatan kolektif. Menguatkannya berarti memperkokoh identitas. Di tengah dunia yang terus berubah, justru akar budaya seperti inilah yang menjadi penanda arah agar kita tidak kehilangan diri di tengah arus zaman.

Kini, pilihan ada di tangan kita : menjadi generasi yang mewarisi, atau generasi yang mengakhiri. (*)

Penulis : Musadat Ishak

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Panggung Perubahan di SMA Negeri 2 Ternate
Mendengar Hari Ini, Menghubungkan Masa Depan (Road Show Kepala BPJN di Maluku Utara)
Sagu, Riwayatmu Kini
Lago Montana, Wajah Baru Pariwisata Maluku Utara
Lari di Lago Montana
Koperasi Merah Putih Simbol Besar Tanpa Fondasi
Kesalehan Terbeli : Menyoal Standar Pakaian Muslimah dalam Sistim Kapitalisme
Opo : Anak Muda Humanis, yang tak lekang oleh waktu

Berita Terkait

Selasa, 19 Mei 2026 - 10:38 WIT

Panggung Perubahan di SMA Negeri 2 Ternate

Selasa, 12 Mei 2026 - 16:15 WIT

Mendengar Hari Ini, Menghubungkan Masa Depan (Road Show Kepala BPJN di Maluku Utara)

Senin, 11 Mei 2026 - 19:21 WIT

Sagu, Riwayatmu Kini

Senin, 11 Mei 2026 - 17:37 WIT

Lago Montana, Wajah Baru Pariwisata Maluku Utara

Minggu, 10 Mei 2026 - 17:19 WIT

Lari di Lago Montana

Berita Terbaru

Drawing Cabor Sepak Bola PORPROV V yang berlangsumg di Hotel Grand Majang Ternate [dok : kasedata]

Olahraga

Drawing PORPROV 2026, Ternate Tantang Tuan Rumah Halut

Sabtu, 23 Mei 2026 - 22:26 WIT

Mahasiswa KKSD UMMU Kelompok 3 dalam kegiatan sosialisasi bahaya narkotika [dok : kasedata]

Pendidikan

Mahasiswa UMMU Edukasi Pelajar Desa Tului Soal Bahaya Narkotika

Sabtu, 23 Mei 2026 - 20:22 WIT

Laga penutup musim antara Borneo FC dan Malut United di Stadion Segiri, Samarinda [dok : kasedata]

Olahraga

Laga Penutup Musim, Borneo FC Hancurkan Malut United 7-1

Sabtu, 23 Mei 2026 - 19:44 WIT

Latar surat pemberitahuan penundaan PORPROV Malut/Logo PORPROV 2026 [Dok : kasedata]

Olahraga

PORPROV Malut Ditunda, Ini Jadwal Barunya

Jumat, 22 Mei 2026 - 19:33 WIT