Berpulangnya Sang Visioner : Mengenang Bapak M. Al Yasin Ali

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 09:08 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Aka Abdullah

Kabar duka itu baru saya baca selepas subuh melalui sebuah grup WhatsApp. Seorang pemimpin yang dikenal low profile, bersahaja, dan kaya akan gagasan telah berpulang ke hadirat Allah SWT. Kepergiannya meninggalkan duka, sekaligus ruang refleksi tentang jejak pengabdian seorang birokrat dan pemimpin daerah yang telah mendedikasikan sebagian besar hidupnya bagi pembangunan Maluku Utara.

Ada satu percakapan yang terasa begitu dekat dalam ingatan. Pada 13 Agustus kemarin, hanya beberapa hari sebelum kabar kepergian beliau, Wakil Gubernur Maluku Utara, KH. Sarbin Sehe, sempat menanyakan kabar almarhum kepada sahabatnya, H. Salim Taib, yang dikenal cukup dekat dengan beliau.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Bagaimana kabarnya Bos Lim ?” demikian kurang lebih pertanyaan yang disampaikan. “Kelihatannya kesehatan beliau agak menurun, ya ?”

Percakapan itu kemudian terhenti karena kami harus memulai rapat. Tidak ada yang menyangka bahwa percakapan singkat tersebut kelak menjadi bagian dari rangkaian kenangan terakhir tentang seorang tokoh yang pernah memberikan warna penting dalam perjalanan pemerintahan Maluku Utara.

Almarhum Bapak M. Al Yasin adalah sosok birokrat yang meniti karier dari jenjang paling bawah. Ia tumbuh melalui pengalaman panjang dalam birokrasi dan pemerintahan hingga kemudian mencapai puncak pengabdiannya sebagai Bupati Halmahera Tengah. Setelah itu, pengabdiannya berlanjut pada tingkat Provinsi Maluku Utara sebagai Wakil Gubernur, mendampingi almarhum KH. Abdul Gani Kasuba.

Saya sendiri baru berkesempatan mengenal beliau lebih dekat ketika beliau menjabat sebagai Wakil Gubernur. Kesan yang saya tangkap cukup kuat beliau adalah pribadi yang ramah, terbuka, rendah hati, dan bersahaja. Namun, di balik kesederhanaan tersebut terdapat cara berpikir yang jauh melampaui kepentingan jabatan. Beliau memiliki visi yang cukup jelas mengenai bagaimana Maluku Utara harus dibangun dan bagaimana pemerintahan provinsi harus bergerak lebih cepat, efektif, dan terukur.

Baca Juga :  Demi Ilmu Harus Menantang Sungai, Kisah Pelajar Waisakai di Kepulauan Sula

Saya masih mengingat suatu kesempatan ketika kami sama-sama menunggu dimulainya sidang paripurna DPRD. Waktu menunggu itu kami manfaatkan untuk berbincang cukup panjang, mulai dari persoalan-persoalan ringan hingga memasuki diskusi mengenai pembangunan dan percepatan pembangunan Provinsi Maluku Utara.

Sebagai mantan Bupati Halmahera Tengah, beliau memiliki pengalaman empiris dalam mengelola pemerintahan dan pembangunan di daerah. Pengalaman tersebut tampaknya membentuk cara pandangnya bahwa pembangunan tidak cukup hanya dengan menghadirkan program, tetapi membutuhkan fondasi kelembagaan, tata kelola, serta ekosistem sosial yang memungkinkan program tersebut berjalan secara berkelanjutan.

Salah satu gagasan yang pernah beliau sampaikan kepada saya adalah mengenai penyediaan rumah bagi aparatur sipil negara di Sofifi, termasuk bagi para pejabat pemerintahan.

Sekilas, gagasan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, jika ditempatkan dalam konteks persoalan Sofifi sebagai ibu kota Provinsi Maluku Utara, gagasan itu sesungguhnya memiliki dimensi kebijakan yang cukup strategis.

Beliau melihat persoalan tersebut bukan semata-mata sebagai persoalan perumahan, melainkan sebagai bagian dari persoalan tata kelola pemerintahan dan pembangunan kawasan. Ketersediaan hunian bagi ASN, menurut logika berpikir beliau, dapat menjadi salah satu instrumen untuk mendorong aparatur menetap dan beraktivitas secara lebih permanen di Sofifi.

Ketika ASN menetap, aktivitas pemerintahan akan semakin hidup. Ketika aktivitas pemerintahan tumbuh, kebutuhan terhadap jasa, perdagangan, transportasi, pendidikan, dan berbagai aktivitas sosial-ekonomi lainnya ikut berkembang. Dari sinilah kemudian terbentuk multiplier effect yang dapat mendorong pertumbuhan Sofifi sebagai pusat pemerintahan sekaligus pusat pertumbuhan baru di Maluku Utara.

Cara berpikir semacam itu menunjukkan pendekatan yang problem solving dan cukup teknokratis menyelesaikan satu persoalan fundamental untuk membuka jalan bagi penyelesaian persoalan-persoalan lain yang saling berkaitan.

Baca Juga :  Tak Sekedar Jadi Jurnalis, Husen Hamid Pilih Berjuang demi Gizi Anak di Pelosok Taliabu

Itulah salah satu potongan percakapan yang hingga kini masih melekat dalam ingatan saya.

Sayangnya, percakapan itu harus berakhir karena sidang paripurna DPRD segera dimulai. Kami pun berpisah tanpa pernah membayangkan bahwa percakapan sederhana tersebut kelak menjadi salah satu kenangan terakhir saya tentang seorang pemimpin yang ternyata menyimpan begitu banyak gagasan tentang masa depan daerah ini.

Kini, beliau telah pergi.

Namun, seorang pemimpin tidak semata-mata dikenang karena berapa lama ia menduduki sebuah jabatan. Seorang pemimpin dikenang melalui gagasan yang diwariskan, fondasi yang dibangun, kebijakan yang pernah diperjuangkan, dan terutama melalui kebaikan yang dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya.

Almarhum M. Al Yasin Ali telah melewati perjalanan panjang pengabdian dari seorang birokrat, berkembang menjadi pemimpin pemerintahan daerah, kemudian menjadi kepala daerah, hingga akhirnya dipercaya mendampingi kepemimpinan Provinsi Maluku Utara sebagai Wakil Gubernur.

Bagi saya, salah satu warisan penting dari sosok seperti beliau adalah keberanian untuk melihat persoalan bukan sekadar sebagai masalah, tetapi sebagai tantangan kebijakan yang harus dicari jalan keluarnya.

Pemikiran seperti itulah yang relevan untuk terus diwariskan. Sebab, pembangunan daerah pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang sedang memegang kewenangan, tetapi tentang bagaimana gagasan-gagasan baik dapat terus hidup, dikembangkan, dan diwujudkan oleh generasi berikutnya.

Mungkin tidak semua gagasan almarhum sempat diwujudkan. Mungkin pula percakapan kita tidak pernah sempat dituntaskan. Namun, gagasan tentang bagaimana membangun Maluku Utara dengan lebih cepat, lebih tertata, lebih efektif, dan lebih manusiawi akan selalu memiliki ruang untuk dilanjutkan.

Selamat jalan, Bapak M. Al Yasin Ali.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah almarhum, mengampuni segala khilaf dan dosa, melapangkan kuburnya, menerangi alam barzakhnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. (*)

Penulis : Aka Abdullah

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Ko Nan, Jurnalis yang Istiqamah
Paskibraka Nasional, Haikal Kadafi Jadi Inspirasi Generasi Muda Ternate
Selasa 12 Mei, Jenazah Mantan Wali Kota Tiba di Ternate
Tiga Obituari dalam Kepergian Irfan Ahmad
Tak Sekedar Jadi Jurnalis, Husen Hamid Pilih Berjuang demi Gizi Anak di Pelosok Taliabu
Irman Saleh, Menjaga Nyala Pers dan Literasi di Maluku Utara
Aksi Progresif Taufik Rustam Antar Malut United Tumbangkan Borneo
Kritik Para Fans, Antara Cinta dan Harapan untuk Malut United

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 09:08 WIT

Berpulangnya Sang Visioner : Mengenang Bapak M. Al Yasin Ali

Selasa, 11 Agustus 2026 - 20:20 WIT

Ko Nan, Jurnalis yang Istiqamah

Jumat, 10 Juli 2026 - 00:03 WIT

Paskibraka Nasional, Haikal Kadafi Jadi Inspirasi Generasi Muda Ternate

Minggu, 10 Mei 2026 - 12:40 WIT

Selasa 12 Mei, Jenazah Mantan Wali Kota Tiba di Ternate

Rabu, 8 April 2026 - 14:56 WIT

Tiga Obituari dalam Kepergian Irfan Ahmad

Berita Terbaru

Wakil Gubernur Maluku Utara, H. Sarbin Sehe. || dok : Kasedata

Daerah

APBD-P Maluku Utara Tahun 2026 Tembus Rp 3,211 Triliun

Kamis, 13 Agu 2026 - 17:57 WIT

Ketua DPD PSI Kota Ternate, Jabar Abdul

Daerah

Semarak Kemerdekaan, PSI Ternate Gelar Turnamen Domino

Kamis, 13 Agu 2026 - 13:23 WIT