Kadikbud Malut Kibarkan Merah Putih di Pulau Rao, Tegaskan Negara Hadir di Tengah Pelajar

Senin, 17 Agustus 2026 - 12:56 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadikbud) Provinsi Maluku Utara, Dr. Abubakar Abdullah bertindak sebagai Inspektur Upacara di SMA Kristen Nusa Damai Posi-Posi Rao, Kabupaten Pulau Morotai. || dok : Kasedata

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadikbud) Provinsi Maluku Utara, Dr. Abubakar Abdullah bertindak sebagai Inspektur Upacara di SMA Kristen Nusa Damai Posi-Posi Rao, Kabupaten Pulau Morotai. || dok : Kasedata

Kasedata.id – Laut boleh memisahkan pulau, tetapi tidak boleh memisahkan cita-cita anak-anak Indonesia. Pesan itu terasa kuat di Pulau Rao, Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara, Senin (17/8/2026).

Di tengah keterbatasan akses dan jauhnya wilayah dari pusat pemerintahan, Merah Putih tetap berkibar. Para pelajar berdiri tegak mengikuti upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadikbud) Provinsi Maluku Utara, Dr. Abubakar Abdullah, yang bertindak sebagai inspektur upacara.

Upacara berlangsung di halaman SMA Kristen Nusa Damai Posi-Posi Rao, Kecamatan Morotai Selatan Barat. Para peserta terdiri atas pelajar tingkat SD, SMP, dan SMA, para guru, serta jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara bersama Cabang Dinas Pendidikan Pulau Morotai.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kehadiran Abubakar di pulau terpencil tersebut bukan sekadar memenuhi agenda seremonial kemerdekaan. Langkah itu merupakan tindak lanjut arahan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda agar jajaran pemerintah, khususnya bidang pendidikan, hadir langsung dan membersamai para pelajar di wilayah terpencil pada momentum peringatan kemerdekaan.

“Kami ingin anak-anak di pulau terpencil merasakan bahwa mereka tidak sendiri. Negara hadir dan pemerintah hadir bersama mereka,” kata Abubakar.

Untuk tiba di Posi-Posi Rao, rombongan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan harus menempuh perjalanan panjang. Dari Sofifi, rombongan menuju Tobelo dan selanjutnya Daruba, ibu kota Kabupaten Pulau Morotai. Perjalanan kemudian dilanjutkan melalui jalur darat menuju Wayabula, Morotai Selatan Barat, sekitar satu setengah jam.

Dari Wayabula, perjalanan belum selesai. Rombongan harus menyeberangi laut menggunakan perahu menuju Posi-Posi Rao.

Perjalanan panjang tersebut seolah menjadi gambaran nyata tentang tantangan pendidikan di Maluku Utara. Di provinsi kepulauan ini, jarak bukan sekadar angka di peta. Jarak adalah laut yang harus diseberangi, perahu yang harus ditumpangi, dan waktu yang harus ditempuh demi memastikan anak-anak tetap bisa bersekolah.

Baca Juga :  Hadapi TKA 2026, Dikbud Maluku Utara Satukan Sekolah dan Bimbel Perkuat Mutu Pendidikan

SMA Kristen Posi-Posi Rao sendiri tidak hanya menampung siswa dari wilayah setempat. Sejumlah pelajarnya datang dari pulau-pulau tetangga, termasuk Saminyamau, sebuah desa pesisir.

Untuk sampai ke sekolah, mereka harus menyeberangi laut menggunakan perahu. Sebagian diantar orang tua, sementara sebagian lainnya harus mendayung sendiri.

“Bagi mereka, pergi ke sekolah bukan perkara sederhana. Mereka harus menyeberangi laut. Tetapi semangat mereka untuk belajar tidak pernah surut,” ujar Kadikbud.

Bagi Aka, kondisi tersebut justru memperlihatkan betapa kuatnya semangat anak-anak di wilayah kepulauan untuk mendapatkan pendidikan. Karena itu, pelaksanaan upacara kemerdekaan di pulau terpencil tidak boleh dipandang hanya sebagai kegiatan seremonial. Ada pesan kebangsaan yang hendak ditegaskan bahwa negara tidak boleh hadir hanya di wilayah yang mudah dijangkau.

“Di pulau terpencil kita kibarkan Merah Putih, di sekolah kita tanamkan nasionalisme,” ucap Abubakar, yang pernah memimpin KNPI Maluku Utara.

Ia menegaskan, jarak geografis tidak boleh membuat anak-anak di pulau terpencil merasa jauh dari Indonesia.

“Laut boleh memisahkan pulau, tetapi tidak boleh memisahkan cita-cita anak-anak Indonesia,” tegasnya.

Abubakar mengatakan, anak-anak di wilayah terpencil memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan berkualitas, mengembangkan potensi, dan meraih masa depan.

Karena itu, pemerataan layanan pendidikan harus benar-benar menjangkau seluruh wilayah, termasuk pulau-pulau terpencil yang selama ini menghadapi tantangan geografis dan keterbatasan akses.

Kunjungan ke Posi-Posi Rao juga tidak berhenti pada upacara. Rombongan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara membawa bantuan komputer dari Gubernur Maluku Utara untuk SMA Kristen Posi-Posi Rao dan SMA BPD Leo-Leo.

Baca Juga :  Komisi IV DPRD Malut Soroti Kerusakan Kelas dan Sertifikasi Guru

Bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung proses pembelajaran sekaligus membuka akses para siswa terhadap teknologi dan informasi.

“Kami datang bukan hanya untuk upacara. Kami ingin melihat langsung kondisi sekolah, mendengar kebutuhan anak-anak dan guru, serta membawa dukungan yang bisa membantu proses pembelajaran,” tuturnya.

Bantuan perangkat komputer menjadi bagian penting dari upaya memperkecil kesenjangan pendidikan di wilayah kepulauan. Di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, anak-anak di pulau terpencil tidak boleh tertinggal hanya karena tempat tinggal mereka jauh dari pusat kota.

Di halaman SMA Kristen Posi-Posi Rao, Merah Putih pun berkibar di antara laut dan keterbatasan. Bagi para pelajar, kibaran bendera itu bukan hanya simbol peringatan kemerdekaan. Ia menjadi penegasan bahwa mereka adalah bagian dari Indonesia. Bahwa meski tinggal di pulau yang jauh, hak untuk belajar, bermimpi, dan meraih masa depan tetap sama.

Langkah pemerintah hadir langsung di tengah mereka mendapat apresiasi dari sejumlah tokoh masyarakat Pulau Rao.

Hari itu, kemerdekaan terasa bukan sebagai cerita yang hanya dibacakan dari buku sejarah. Kemerdekaan hadir di halaman sekolah, di wajah para pelajar, di tangan guru, dan di bawah Merah Putih yang berkibar di sebuah pulau yang dikelilingi laut.

Di sana, anak-anak Indonesia tetap berdiri tegak. Mereka belajar, mereka bermimpi, dan mereka menatap masa depan.

Merah Putih yang berkibar di Pulau Rao menjadi pesan yang tegas, sejauh apa pun pulau dipisahkan oleh laut tidak boleh ada satu pun anak Indonesia yang merasa ditinggalkan negaranya. (*)

Penulis : Ilham

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Ruang Kuliah Terbatas, INTEG Ternate Minta Perhatian Ketua Komisi IV DPRD Malut
80 Calon Kepsek Masuk Tahap Uji Kompetensi, Dikbud Malut Tegaskan Merit System
Warga Moti Minta Status Jalan Lingkar, Jembatan hingga Desil : Muhajirin Siap Kawal Aspirasi
Dikbud Malut Paparkan Capaian, Sejumlah Target Pendidikan Masih Harus Dikejar
Rakor Pendidikan Berakhir, Sejumlah Isu Strategis Mulai Dipetakan
Kadikbud Malut Dorong Sinergi Pusat-Daerah Perkuat Mutu Pendidikan
Capaian Numerasi-Literasi Pendidikan di Maluku Utara Masih Rendah
Atasi Tantangan Kepulauan, Kemendikdasmen Perkuat PJJ dan Benahi SMA-SMK di Malut

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 17:00 WIT

Ruang Kuliah Terbatas, INTEG Ternate Minta Perhatian Ketua Komisi IV DPRD Malut

Minggu, 27 September 2026 - 22:07 WIT

80 Calon Kepsek Masuk Tahap Uji Kompetensi, Dikbud Malut Tegaskan Merit System

Jumat, 25 September 2026 - 22:26 WIT

Warga Moti Minta Status Jalan Lingkar, Jembatan hingga Desil : Muhajirin Siap Kawal Aspirasi

Kamis, 24 September 2026 - 21:44 WIT

Dikbud Malut Paparkan Capaian, Sejumlah Target Pendidikan Masih Harus Dikejar

Kamis, 24 September 2026 - 00:15 WIT

Rakor Pendidikan Berakhir, Sejumlah Isu Strategis Mulai Dipetakan

Berita Terbaru

Daerah

11 Pejabat Dilantik, Wali Kota Ternate Sebut Bukan Hadiah

Kamis, 1 Okt 2026 - 19:29 WIT

Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos. || Foto : Kasedata.id

Daerah

Gubernur Sherly Dorong Linmas Jadi Garda Keamanan Desa

Rabu, 30 Sep 2026 - 19:49 WIT