Kasedata.id – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadikbud) Provinsi Maluku Utara, Abubakar Abdullah, tampil dengan cara berbeda saat menjadi inspektur upacara (Irup) peringatan Hari Sumpah Pemuda di SMA Negeri 3 Halmahera Selatan, Desa Gitang, Kecamatan Pulau Makian, Kamis (29/10/2026).
Di hadapan peserta upacara, Abubakar menyampaikan amanat inspektur upacara menggunakan bahasa Makeang selama kurang lebih tujuh menit. Meski sesekali terdengar tersendat saat menyampaikan beberapa kalimat, ia tetap menuntaskan amanatnya dalam bahasa daerah Makeang. Abubakar yang lahir di Pulau Makeang sejak kecil sudah meninggalkan tanah Dodomi tersebut dan tumbuh besar di daratan Halmahera.
Penggunaan bahasa Makeang dalam upacara Sumpah Pemuda ini menjadi pesan tersendiri tentang pentingnya menjaga bahasa ibu sebagai bagian dari identitas, kebudayaan, dan kekayaan bangsa Indonesia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagaimana diketahui, masyarakat Pulau Makian mengenal dua ragam bahasa utama, yakni bahasa Makian Dalam dan bahasa Makian Luar. Keduanya memiliki perbedaan dari sisi bahasa dan persebaran penutur. Bahasa Makian Dalam umumnya dikaitkan dengan rumpun bahasa Papua Barat, sedangkan bahasa Makian Luar termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia. Pengelompokan ini perlu merujuk pada kajian linguistik yang tepat untuk memastikan klasifikasi dan persebarannya.
Di tengah perkembangan zaman, keberlangsungan bahasa daerah menghadapi tantangan, termasuk berkurangnya penggunaan bahasa ibu dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, penggunaan bahasa Makeang dalam momentum Sumpah Pemuda menjadi pengingat bahwa pelestarian bahasa daerah membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari keluarga, masyarakat, hingga satuan pendidikan.
Upacara tersebut turut dihadiri Camat Pulau Makian, Kapolsek, serta warga sekolah dari sejumlah satuan pendidikan di wilayah Kecamatan Pulau Makian.
Pada bagian akhir amanatnya, Abubakar menitipkan pesan tentang pentingnya menjaga persatuan, kebersamaan, dan semangat persaudaraan. Pesan itu disampaikan melalui ungkapan dalam bahasa Makeang :
“Wah lo doklo tadopas dopas, tapi ulona tadopas te, ni turunan noma noma tit te gohaso tit le,” tutup Aka sapaan akrab Abubakar Abdullah dalam amantnya.
Ungkapan tersebut menjadi penegasan bahwa perbedaan tidak seharusnya memisahkan masyarakat, karena kita berasal dari satu keturunan.
Melalui momentum Hari Sumpah Pemuda, Abubakar mengajak dunia pendidikan untuk tidak hanya menanamkan kecintaan terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, tetapi juga menumbuhkan kebanggaan terhadap bahasa daerah sebagai warisan budaya yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (*)
Penulis : Ilham
Editor : Redaksi







![Sekretaris Wilayah PKB Maluku Utara, Abdul Malik Sillia, saat memberikan sambutan [dok : karno/kasedata]](https://kasedata.id/wp-content/uploads/2026/10/IMG_20261029_171829-225x129.jpg)