Nilai-Nilai Budaya Cokaiba Sebagai Spirit Pemersatu

Selasa, 8 Agustus 2023 - 16:32 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Oleh: Musadat Ishak

Tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan napas kehidupan yang menjaga identitas dan kebersamaan suatu masyarakat. Di wilayah Halmahera, tepatnya di kawasan Gamrange (Patani, Maba, dan Weda) di Maluku Utara, terdapat sebuah tradisi unik yang sarat makna spiritual dan sosial : Cokaiba.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tradisi ini menjadi bagian penting dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, sekaligus mencerminkan kearifan lokal yang mampu mempererat persatuan masyarakat. Cokaiba sering dikenal sebagai “topeng setan” karena para pesertanya mengenakan topeng dengan rupa menyeramkan. Namun, di balik visual yang tampak kontras dengan nilai religius, tersimpan filosofi yang mendalam.

Kata “Cokaiba” sendiri berasal dari bahasa Tidore yang berarti “bermuka setan”. Makna ini bukanlah ajakan pada keburukan, melainkan simbol refleksi diri—bahwa manusia memiliki sisi gelap yang harus dikendalikan dan ditinggalkan demi mencapai kesempurnaan akhlak.

Dalam konteks ini, Cokaiba menjadi media dakwah kultural. Ia mengajarkan bahwa perjalanan manusia bukan hanya fisik, tetapi juga spiritual : dari sifat buruk menuju kebaikan, dari kegelapan menuju cahaya. Nilai ini sangat relevan dengan semangat Maulid Nabi, yang memperingati kelahiran sosok pembawa rahmat dan teladan moral bagi umat manusia.

Baca Juga :  8 Tahun Dedikasi Prof, Saiful Deni Rektor UMMU

Lebih dari sekadar simbol, Cokaiba juga kaya akan filosofi penciptaan manusia. Terdapat empat jenis utama: Kayu (api), Gof (angin), Iripala (air), dan Nok (tanah). Keempat unsur ini mencerminkan elemen dasar kehidupan yang membentuk manusia secara utuh. Menariknya, jumlah Cokaiba dalam satu perayaan sering kali mencapai 99, merujuk pada Asmaul Husna sebuah pengingat akan sifat-sifat mulia Tuhan yang patut diteladani.

Pelaksanaan Cokaiba setiap 12 Rabiul Awal tidak hanya menjadi agenda ritual, tetapi juga ruang interaksi sosial yang kuat. Masyarakat dari berbagai latar belakang berkumpul, berpartisipasi, dan merayakan bersama. Para peserta mengenakan kostum khas seperti jubah atau kebaya, menciptakan suasana yang meriah sekaligus sakral.

Pada puncak acara, tradisi berebut makanan menjadi simbol kebersamaan dan pemerataan bahwa rezeki harus dibagi, bukan dimonopoli. Di sinilah letak kekuatan Cokaiba sebagai spirit pemersatu. Ia menghapus sekat-sekat sosial, menyatukan generasi tua dan muda, serta mempertemukan nilai adat dan ajaran agama dalam harmoni yang indah.

Baca Juga :  Respons Kemanusiaan “Pemulihan dan Dukungan Korban”

Dalam dunia yang semakin individualistik, tradisi seperti ini menjadi pengingat penting bahwa kebersamaan adalah fondasi utama kehidupan masyarakat. Namun, di tengah arus modernisasi, Cokaiba menghadapi tantangan besar. Globalisasi dan perubahan gaya hidup berpotensi menggerus minat generasi muda terhadap tradisi lokal.

Oleh karena itu, upaya pelestarian harus dilakukan secara kreatif dan adaptif melalui dokumentasi digital, pendidikan budaya, hingga integrasi dalam kegiatan pariwisata berbasis kearifan lokal. Cokaiba bukan sekadar tontonan budaya, melainkan tuntunan nilai. Ia mengajarkan introspeksi, kebersamaan, dan keseimbangan antara dunia spiritual dan sosial.

Dengan menjaga dan menghidupkan kembali tradisi ini, masyarakat Gamrange tidak hanya melestarikan warisan leluhur, tetapi juga memperkuat identitas dan persatuan di tengah perubahan zaman.

Pada akhirnya, Cokaiba adalah cermin kehidupan : bahwa di balik wajah “menyeramkan”, terdapat pesan kebaikan yang mendalam. Dan dari sanalah, lahir kekuatan untuk bersatu, saling memahami, dan berjalan bersama menuju masa depan yang lebih harmonis. (*)

Penulis : Musadat Ishak

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Ko Nan, Jurnalis yang Istiqamah
Siapa Peduli Persiter Ternate ?
Persiter Sebagai Simbol Harga Diri 
Jatuh Sakit Bukan Berarti Menghalangi Mimpi Sarjanaku
Edukasi Pemanfaatan Rempah dan Barang Bekas sebagai Pengharum Ruangan Alami Bernilai Ekonomi dan Ramah Lingkungan
Brazil vs Norwegia
Ketika Sejarah Berbisik : Brazil, Amerika, dan Penantian 24 Tahun
Catatan Porprov Maluku Utara 2026

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 20:20 WIT

Ko Nan, Jurnalis yang Istiqamah

Sabtu, 25 Juli 2026 - 14:38 WIT

Siapa Peduli Persiter Ternate ?

Jumat, 24 Juli 2026 - 15:16 WIT

Persiter Sebagai Simbol Harga Diri 

Jumat, 10 Juli 2026 - 20:00 WIT

Jatuh Sakit Bukan Berarti Menghalangi Mimpi Sarjanaku

Senin, 6 Juli 2026 - 15:18 WIT

Edukasi Pemanfaatan Rempah dan Barang Bekas sebagai Pengharum Ruangan Alami Bernilai Ekonomi dan Ramah Lingkungan

Berita Terbaru

Wisudawaan Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STIMIK) Tidore Mandiri [Foto : sukarsi/kasedata]

Pendidikan

STIMIK Tidore Mandiri Wisuda, Bidik Status Institut

Sabtu, 22 Agu 2026 - 19:57 WIT

Sekretaris Pengcab FORKI Halut, Boyke Raymond Toisuta

Olahraga

SK Pembekuan FORKI Halut Dipertanyakan, Siapkan Somasi

Jumat, 21 Agu 2026 - 19:37 WIT

Pendidikan

Wali Kota Ternate Dukung Munas FPIP-PTM di UMMU

Kamis, 20 Agu 2026 - 18:28 WIT