Kesalehan Terbeli : Menyoal Standar Pakaian Muslimah dalam Sistim Kapitalisme

Selasa, 5 Mei 2026 - 11:01 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sukarsi Muhdar/Penulis

Sukarsi Muhdar/Penulis

Oleh : Sukarsi Muhdar
(Jurnalis Maluku Utara) 


Sejarah pakaian muslimah memiliki perjalanan panjang yang melibatkan perpaduan antara nilai-nilai teologis, budaya, hingga pengaruh politik modern. Di setiap negara terutama mayoritas islam seperti Indonesia memiliki nilai kearifan lokal yang dibangun dalam sistim kepercayaan, sarat nilai budaya bagi masyarakat setempat hingga turun menurun.

Dari jejak histori, pakaian muslimah di Indonesia berkembang secara bertahap. Mulai dari adaptasi budaya lokal pada masa awal islam. Penggunaan selendang/kerudung hingga populernya hijab modern.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam tulisan Amanda Rachmadita dan Martin Sitompul (Busana Muslim Indonesia dari Masa ke Masa) yang mengutip Eva F. Amrullah dalam “Indonesian Muslim Fashion Styles & Designs” (Isim Review 22, 2008) menyebutkan busana muslim bukanlah fenomena umum di Indonesia hingga beberapa dekade silam. Trennya naik pada medio 1990 hingga 2000-an. Jauh sebelumnya, penggunaan atribut muslimah seperti kerudung di ruang publik masih sangat terbatas dan cenderung eksklusif di lingkungan tertentu.

Jika telusuri, jejak busana muslim di Indonesia ternyata sejalan dengan kisah masuknya Islam ke Nusantara. Saat itu, para penyebar agama dan pedagang dari Timur Tengah tidak hanya membawa misi dakwah, tetapi juga tren pakaian dari negeri asal mereka.

Eva Amrullah, mengungkap pengaruh gaya Arab Saudi dan Yaman mulai menjamur sejak banyak pedagang dari sana menetap dan membangun keluarga di Indonesia. Pada masa-masa awal, masyarakat kita justru lebih akrab dengan shalwar qamiz khas India daripada abaya tertutup ala Timur Tengah.

Baca Juga :  Bayang-Bayang Slot Zeus, Ancaman Generasi Bangsa

Pakaian Muslimah dalam Jeretan Sistem Kapitalisme

Fenomena kapitalisme bekerja memanfaatkan perempuan muslim berkedok dalil agama ( sering disebut modifikasi agama) adalah isu krusial sering diwacanakan dalam ilmu sosiologi, ekonomi, dan politik diruang lingkup manapun. Kritik pakaian muslimah dalam kapitalisme modern menyoroti bagaimana busana hijab misalkan, seharusnya menjadi simbol ketaatan dan perlindungan spiritual. Namun telah bergeser menjadi Lifestyle yang tunduk pada tren pasar.

Busana muslimah kerap terjebak dalam arus komersialisasi demi keuntungan materi. Fungsi utama hijab sebagai penutup aurat perempuan bergeser menjadi komoditas mode bernilai tinggi, yang pada akhirnya membentuk standar kecantikan berbasis eksploitasi visual dan tekanan sosial.

Dalam analisis Marxisme, Karl Marx memandang bahwa kapitalisme bekerja memanfaatkan struktur sosial termasuk agama, untuk melanggengkan kekuasaannya. Dalam konteks ini simbol-simbol agama digunakan untuk menciptakan kepuasan semu (candu) agar masyarakat tidak fokus pada eksploitasi ekonomi semata.

Didunia pasar kita sering berhadapan dengan tren yang didalilkan syari’ih. Masyarakat kita cenderung menilai tingkat religiusitas seorang perempuan hanya dari kain yang dikenakannya. Bahkan ada anggapan klasik, kesalehan sejati melekat pada busana tertutup. Sementara mereka yang tampil lebih terbuka langsung dihakimi sebagai sosok yang mengabaikan tuntunan agama. Dampaknya, muncul stigma sosial yang menyudutkan perempuan non-syar’i dengan label buruk seperti tidak berpendidikan atau tidak beragama.

Tuhan di Rak Etalase

Melihat fenomena saat ini, perempuan masih terus diposisikan sebagai komoditas utama dalam logika pasar. Budaya feodal masih mengakar kuat di lingkungan kita turut melanggengkan eksploitasi besar-besaran dalam setiap transaksi. Hal ini tampak jelas pada deretan pakaian berlabel ‘syari’ yang terpajang di etalase, sebagian digantung pada manekin yang menonjolkan siluet tubuh perempuan. Seolah olah merepresentasikan komoditas yang siap dikonsumsi kapan saja.

Baca Juga :  Menjaga Togal Busua

Deretan pakaian syari dengan desain mencolok terpampang nyata, sengaja dipamerkan label harga dengan deretan angka nol yang fantastis.

Fenomena itu menunjukan standar yang berlaku bukan lagi soal kesenjangan kaya atau miskin, melainkan kuatnya tekanan stigma sosial. Stigma inilah yang memaksa perempuan dari kalangan ekonomi bawah untuk memaksakan diri membelinya.

Bayangkan saja, satu set pakaian syari dibanderol dengan harga Rp300.000 hingga Rp500.000. Namun, dibalik kemegahan kain itu tersimpan beban finansial yang dipaksakan demi pengakuan sosial.

Masih banyak perempuan di luar sana yang harus berjuang mati-matian hanya untuk menyambung hidup dan memberi makan keluarganya. Di tengah himpitan ekonomi, mereka justru harus memikul beban tambahan berupa tekanan stigma sosial hanya karena tidak mampu membeli pakaian ‘standar’ masyarakat. Mereka seolah dihukum dua kali : oleh kemiskinan dan oleh penilaian moral yang dangkal. Di sinilah kesalehan terasa seperti sesuatu yang dipaksa harus dibeli.

Jika harga sebuah pakaian menentukan kehormatan seorang perempuan, lantas dimana letak nilai spiritual yang selama ini diagungkan? Kita perlu merenung kembali : apakah kita sedang menjunjung tinggi nilai agama, atau justru sedang menyembah tren pasar. Jangan sampai atribut suci (pakaian muslimah) kehilangan maknanya, hanya karena kita lebih peduli pada tampilan luar. Kesalehan seharusnya lahir dari kesadaran batin dan etika sosial, bukan mengikuti logika kapitalisme modern. (*)

Penulis : Sukarsi Muhdar

Editor : Sandin Ar

Berita Terkait

Koperasi Merah Putih Simbol Besar Tanpa Fondasi Jelas
Opo : Anak Muda Humanis, yang tak lekang oleh waktu
Membuka Babak Baru, Menjadi Universitas Terkemuka (Catatan Pelantikan Rektor Universitas Muhammadiyah Maluku Utara)
EMBUN
62 Tahun IMM : Mengembalikan Nyala Intelektual Gerakan Profetik
Simfoni Ruang di Gebe: Meluruskan Nalar Hukum “Tabolabale”
Tahun Baru, KUHP Baru: Transisi Keberlakuan Hukum Pidana Nasional
Mengawal Proses Hukum, Menanti Keadilan

Berita Terkait

Selasa, 5 Mei 2026 - 17:50 WIT

Koperasi Merah Putih Simbol Besar Tanpa Fondasi Jelas

Selasa, 5 Mei 2026 - 11:01 WIT

Kesalehan Terbeli : Menyoal Standar Pakaian Muslimah dalam Sistim Kapitalisme

Rabu, 22 April 2026 - 13:24 WIT

Opo : Anak Muda Humanis, yang tak lekang oleh waktu

Sabtu, 4 April 2026 - 07:53 WIT

Membuka Babak Baru, Menjadi Universitas Terkemuka (Catatan Pelantikan Rektor Universitas Muhammadiyah Maluku Utara)

Senin, 23 Maret 2026 - 09:07 WIT

EMBUN

Berita Terbaru

Opini

Koperasi Merah Putih Simbol Besar Tanpa Fondasi Jelas

Selasa, 5 Mei 2026 - 17:50 WIT