Oleh: Muhammad Taufan Baba
(Ketua DPD IMM Malut)
Tidak ada organisasi besar yang lahir dari ruang kosong. Ia selalu lahir dari pergulatan gagasan, ketegangan sejarah, serta kebutuhan zaman yang mendesak. Demikian pula Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Organisasi ini bukan sekadar wadah aktivitas mahasiswa, melainkan hasil dari dialektika panjang Muhammadiyah dalam merespons perubahan sosial dan kebutuhan kader intelektual di perguruan tinggi.
Sejarah mencatat, kelahiran IMM pada 1964 bukanlah proses berjalan tanpa perdebatan. Dalam bukun Kelahiran yang Dipersoalkan, Farid Fathoni menegaskan bahwa berdirinya IMM merupakan bagian dari pergulatan Muhammadiyah dalam menyiapkan kader intelektual di kampus. Artinya, sejak awal IMM diproyeksikan bukan sekadar sebagai organisasi mahasiswa yang menjalankan aktivitas rutin. Tetapi sebagai ruang pembentukan intelektual yang mampu membaca, mengkritik, dan memengaruhi arah perkembangan masyarakat.
Di titik ini, pesan sejarah IMM sebenarnya sangat jelas. Organisasi ini dibangun di atas fondasi intelektualitas. Namun pertanyaan yang patut diajukan hari ini adalah sejauh mana fondasi itu masih terjaga?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Realitas gerakan mahasiswa dewasa ini menunjukkan gejala yang tidak bisa diabaikan. Banyak organisasi mahasiswa perlahan mengalami pergeseran orientasi. Ruang-ruang diskusi yang dahulu menjadi pusat dialektika gagasan semakin menyempit. Digantikan oleh aktivitas struktural yang sibuk dengan agenda organisasi, tetapi sering kali miskin kedalaman pemikiran. Forum-forum tetap berjalan, agenda tetap tersusun rapi, tetapi gagasan besar yang lahir dari ruang-ruang itu semakin jarang terdengar.
Fenomena ini tentu tidak bisa dilepaskan dari dinamika zaman. Perubahan sosial, tekanan pragmatisme politik, hingga logika administratif organisasi sering kali mendorong gerakan mahasiswa menjauh dari akar intelektualnya. Dalam situasi seperti ini organisasi mahasiswa berisiko berubah menjadi sekadar mesin kegiatan, bukan lagi pusat produksi gagasan.
IMM tidak kebal dari tantangan itu. Dalam buku IMM Autentik, Ahmad Soleh mengingatkan bahwa kekuatan utama IMM justru terletak pada kemampuannya menjaga keaslian nilai dan tradisi gerakannya. Autentisitas itu hanya dapat dipertahankan jika kader-kader IMM mampu merawat tradisi intelektual sekaligus menjaga integritas moral dalam setiap aktivitas organisasi.
Tanpa tradisi intelektual, organisasi mahasiswa akan kehilangan daya kritisnya. Tanpa integritas moral, gerakan mahasiswa mudah tergelincir menjadi ruang kompetisi kepentingan yang dangkal. Dalam kondisi seperti itu, organisasi mungkin tetap berjalan secara struktural, tetapi kehilangan ruh gerakannya.
Karena itu, pembicaraan tentang masa depan IMM tidak cukup hanya berhenti pada soal konsolidasi organisasi. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana menghidupkan kembali paradigma gerakan lebih dalam dan visioner. Dalam konteks ini, gagasan tentang intelektual profetik yang diperkenalkan Abdul Halim Sani dalam Manifesto Gerakan Intelektual Profetik menjadi sangat relevan.
Konsep intelektual profetik menegaskan bahwa gerakan intelektual tidak boleh berhenti pada aktivitas akademik semata. Ia harus memiliki dimensi moral dan keberpihakan sosial. Intelektual tidak hanya bertugas memahami realitas, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk mengubahnya.
Dengan perspektif ini, kader IMM tidak cukup hanya menjadi mahasiswa yang aktif di kampus. Mereka harus menjadi intelektual yang memiliki keberanian moral untuk berbicara tentang keadilan, kemanusiaan, dan masa depan masyarakat. Di sinilah gerakan mahasiswa menemukan kembali relevansinya.
Momentum milad ke-62 tahun, IMM seharusnya tidak hanya dipahami sebagai perayaan organisasi. Ia seharusnya menjadi ruang refleksi kritis, apakah IMM masih setia pada mandat sejarahnya sebagai gerakan intelektual?
Refleksi semacam ini penting. Sebab organisasi yang tidak pernah berani membaca dirinya sendiri berisiko kehilangan arah. Sejarah memang telah memberikan fondasi yang kuat bagi IMM, tetapi masa depan organisasi ini akan sangat ditentukan oleh keberanian kader-kadernya untuk menjaga autentisitas gerakan sekaligus memperbarui tradisi intelektualnya.
Pada akhirnya, masa depan IMM tidak akan ditentukan seberapa banyak agenda yang dijalankan, melainkan seberapa kuat gagasan yang dilahirkan. Jika IMM mampu kembali menyalakan tradisi intelektualnya, menjaga integritas moral gerakannya, dan menghidupkan spirit profetik dalam membaca realitas sosial, maka organisasi ini tidak hanya akan bertahan, tetapi juga kembali relevan bagi zamannya.
Di titik inilah harapan tentang IMM Gemilang menemukan maknanya. Sebuah visi tentang IMM sebagai rumah bagi intelektual muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki keberanian moral untuk berpihak pada masyarakat. (*)
Penulis : Muhammad Taufan Baba
Editor : Redaksi




![Wali Kota Ternate bersama TPID saat melakukan sidak di salah satu distributor pangan [dok : kasedata]](https://kasedata.id/wp-content/uploads/2026/03/IMG_20260314_015647-225x129.jpg)
![Kadishub Halsel, Ramli Manui, saat diwawancarai [Foto : ridal/kasedata]](https://kasedata.id/wp-content/uploads/2026/03/IMG-20260313-WA0015-225x129.jpg)

