Praktisi Hukum Nilai Laporan IDI Malut Tak Sejalan dengan Semangat KUHP Baru

Kamis, 21 Mei 2026 - 14:55 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Praktisi Hukum sekaligus Managing Partner Maulana Patra Law Firm, Maulana MPM Djamal Sya. || dok : Kasedata

Praktisi Hukum sekaligus Managing Partner Maulana Patra Law Firm, Maulana MPM Djamal Sya. || dok : Kasedata

Kasedata.id Langkah Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Maluku Utara melaporkan Sekretaris Dewan (Sekwan) DPRD Halmahera Barat, Muhammad Syarif Ali ke Polres Ternate atas dugaan pencemaran nama baik di grup WhatsApp internal kini berubah menjadi polemik hukum yang menyita perhatian publik.

Sorotan keras datang dari praktisi hukum sekaligus Managing Partner Maulana Patra Law Firm, Maulana MPM Djamal Syah. Ia menilai laporan tersebut bukan hanya lemah secara konstruksi hukum, tetapi juga berpotensi bertentangan dengan semangat reformasi hukum pidana dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP Baru.

Menurut Maulana, aparat penegak hukum tidak boleh melihat perkara ini hanya secara tekstual, melainkan harus memahami filosofi lahirnya KUHP Baru yang menitikberatkan pada pendekatan keadilan restoratif, perlindungan kritik publik, dan pencegahan kriminalisasi berlebihan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“KUHP Baru hadir bukan untuk membungkam kritik, tetapi menjaga keseimbangan antara kehormatan individu dan kepentingan publik. Karena itu, perkara ini harus dibaca secara utuh dan hati-hati,” tegas Maulana, Kamis (21/5/2026).

IDI Dinilai Tidak Memiliki Legal Standing

Maulana menegaskan, dugaan pencemaran nama baik dalam Pasal 433 UU 1/2023 merupakan delik aduan absolut, sehingga hanya individu yang merasa dirugikan secara langsung yang dapat mengajukan laporan.

Menurutnya, pernyataan Sekwan yang menyebut “sebagian dokter di RSUD Jailolo” tidak pernah menunjuk nama ataupun subjek hukum tertentu, “dalam hukum pidana, kehormatan melekat pada individu, bukan institusi. IDI tidak bisa secara otomatis mengklaim dirinya sebagai pihak yang dihina mewakili anggota yang bahkan tidak disebut secara spesifik. Di titik ini saja, laporan tersebut sudah bermasalah secara formil,” ujar Maulana.

Baca Juga :  Seorang Pemuda Desa Silang Dipolisikan, Buntut Aksi Penganiayaan

Kritik Disebut Bagian dari Kepentingan Publik

Maulana juga menyoroti aspek kepentingan umum dalam perkara tersebut. Ia merujuk pada Penjelasan Pasal 434 ayat (3) KUHP Baru yang memberikan perlindungan terhadap kritik yang dilakukan demi kepentingan masyarakat.

Menurutnya, kritik Sekwan terkait dugaan dokter spesialis pulang lebih awal merupakan bentuk pengawasan terhadap pelayanan publik, terlebih menyangkut hak dasar masyarakat memperoleh layanan kesehatan.

“Sekwan menjalankan fungsi pengawasan. Ketika ada dugaan pelayanan publik terganggu dan itu disampaikan untuk perbaikan sistem, maka konteksnya adalah kepentingan umum, bukan serangan personal,” katanya.

Ia menambahkan, keberadaan bukti video yang beredar juga menjadi faktor penting dalam mengukur unsur objektivitas pernyataan tersebut.

Grup WhatsApp Internal Bukan Ruang Publik

Poin lain yang disorot Maulana adalah medium penyampaian pernyataan yang terjadi di grup WhatsApp internal DPRD Halbar. Ia menilai, percakapan dalam ruang tertutup tidak serta-merta memenuhi unsur “diketahui umum” sebagaimana dimaksud dalam delik pencemaran nama baik.

“Ini forum internal, bukan konferensi pers atau media sosial terbuka. Jika kemudian percakapan itu bocor dan menyebar ke publik, maka yang harus dipersoalkan adalah pihak yang menyebarluaskan, bukan pihak yang pertama kali menyampaikan evaluasi di ruang privat,” tegas alumnus Magister Hukum Universitas Gadjah Mada itu.

Diksi Keras Dinilai Reaksi Emosional

Terkait penggunaan kata “bangsat” yang dipersoalkan dalam laporan, Maulana meminta aparat penegak hukum melihat konteks sosial dan psikologis di balik pernyataan tersebut. Menurutnya, hukum pidana modern tidak bisa hanya membaca satu kata tanpa memahami situasi yang melatarbelakanginya.

Baca Juga :  Tak Pandang Bulu, Polisi Tetapkan Anggota Brimob Tersangka KDRT

“Kita tidak boleh memisahkan emosi dari konteks pelayanan publik. Ketika pejabat bereaksi keras karena dugaan buruknya pelayanan kesehatan masyarakat, itu tidak otomatis dapat dimaknai sebagai niat jahat untuk menghina secara personal,” jelasnya.

Ia menyebut reaksi emosional dalam kondisi tertentu tidak selalu memenuhi unsur dolus malus atau niat jahat dalam hukum pidana.

Pelaporan ke Polres Ternate Dinilai Salah Prosedur

Tak kalah penting, Maulana juga menyoroti aspek kewenangan wilayah hukum atau locus delicti dalam perkara tersebut. Ia menilai laporan ke Polres Ternate justru menjadi cacat prosedural karena peristiwa hukum terjadi di lingkungan DPRD Halmahera Barat.

“Kalau pesan itu dikirim dalam aktivitas kedinasan DPRD Halbar, maka locus perkaranya berada di Halmahera Barat. Secara hukum acara pidana, seharusnya perkara diperiksa di wilayah tempat dugaan tindak pidana terjadi,” tegasnya.

Menurut Maulana, domisili para pihak dan mayoritas saksi yang berada di Halmahera Barat semakin memperkuat argumentasi bahwa penanganan perkara seharusnya berada di wilayah hukum Polres Halbar.

Menutup pernyataannya, Maulana meminta aparat penegak hukum tidak menjadikan hukum pidana sebagai alat membungkam kritik terhadap pelayanan publik.

“Hukum pidana adalah ultimum remedium, senjata terakhir. Jangan sampai kritik terhadap pelayanan kesehatan justru dibalas dengan kriminalisasi. Yang dibutuhkan publik hari ini adalah perbaikan layanan, bukan pembungkaman suara pengawasan,” pungkasnya. (*)

Penulis : Iin Afrianti Hasan

Editor : Redaksi

Berita Terkait

DJP dan Polisi Bongkar Jaringan Meterai Ilegal, Cegah Potensi Kerugian Negara 1 Triliun
Komunitas Konco Sandar Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak, Dorong Masyarakat Berani Cegah Kekerasan
Dua Kali Mangkir, Kepsek SDN 84 Halsel Penuhi Panggilan Polisi
Longboat Baku Tabrak di Taliabu, Satu Korban Hilang
Dugaan Korupsi, Eks Bupati Pulau Taliabu Resmi Ditahan 
Kantor Ombudsman Dibobol Maling, Polres Ternate Selidiki
Merasa Dicemarkan, Mantan Koordinator PKH Ternate Laporkan ke Polisi
Disnakertrans Malut Selidiki Kematian Karyawan IWIP

Berita Terkait

Kamis, 20 Agustus 2026 - 17:11 WIT

DJP dan Polisi Bongkar Jaringan Meterai Ilegal, Cegah Potensi Kerugian Negara 1 Triliun

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 13:34 WIT

Komunitas Konco Sandar Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak, Dorong Masyarakat Berani Cegah Kekerasan

Senin, 3 Agustus 2026 - 18:33 WIT

Dua Kali Mangkir, Kepsek SDN 84 Halsel Penuhi Panggilan Polisi

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 11:28 WIT

Longboat Baku Tabrak di Taliabu, Satu Korban Hilang

Jumat, 26 Juni 2026 - 18:10 WIT

Dugaan Korupsi, Eks Bupati Pulau Taliabu Resmi Ditahan 

Berita Terbaru

Wisudawaan Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STIMIK) Tidore Mandiri [Foto : sukarsi/kasedata]

Pendidikan

STIMIK Tidore Mandiri Wisuda, Bidik Status Institut

Sabtu, 22 Agu 2026 - 19:57 WIT

Sekretaris Pengcab FORKI Halut, Boyke Raymond Toisuta

Olahraga

SK Pembekuan FORKI Halut Dipertanyakan, Siapkan Somasi

Jumat, 21 Agu 2026 - 19:37 WIT

Pendidikan

Wali Kota Ternate Dukung Munas FPIP-PTM di UMMU

Kamis, 20 Agu 2026 - 18:28 WIT